Coffee Hopping Selama Liburan Akhir Tahun 2016

Selama liburan akhir tahun kemarin, saya menghabiskan waktu dengan mencicipi beberapa kedai kopi yang semakin bertambah di Jakarta. Karena berbagai keterbatasan, saya hanya berhasil mampir di beberapa tempat di Jakarta Selatan. Berikut adalah hasil nongkrong dan ngopi-ngopi di beberapa tempat tersebut. Mohon maaf, saya tidak akan membahas mengenai kualitas kopi atau metode menyeduhnya karena saya tidak kompeten menilainya. Yang saya lakukan hanyalah membahas siapakah yang cocok atau aktivitas apakah (selain minum kopi tentunya!) yang tepat menyertai ngopi-ngopi di tempat tersebut. Mari kita mulai!

Filosofi Kopi

Sepertinya saya terlambat sampai di warung kopi ini setelah ramai menjadi lokasi syuting dari film yang berjudul sama. Lokasi Filosofi Kopi adalah tepat di seberang Blok M Square yang menghadap ke Blok M Plaza. Interior industrialnya yang sepertinya menjadi standar banyak restoran dan kafe di Jakarta diperhalus dengan bata merah dan jejeran lukisan cat minyak. Saya senang meja panjang di Filosofi Kopi karena cocok buat orang-orang yang datang dengan partai besar. Filosofi Kopi menyediakan alternatif selain kopi sehingga bukan penggemar kopi bisa ikut menikmati. Cocok sekali ke Filosofi Kopi seusai belanja buku bekas (atau cari tukang jahit?) di Blok M Square.

Srsly

Lokasinya cukup strategis dan luas di Cipete Raya. Interior mengesankan luas dan membagi tempat menjadi area merokok serta tidak merokok. Pilihan menu di Srsly cukup banyak yang membuat kenyang. Srsly cocok buat mereka yang ingin rapat, arisan atau sekedar mencari tempat duduk untuk membuka laptop. Ruangannya cukup terang dan menampung banyak cahaya matahari sehingga auranya cukup membuat betah dan memancing produktivitas, terutama buat yang ingin bekerja.

Butfirst

Warung kopi mungil ini berlokasi di daerah Dharmawangsa; berbagi petak di Pelaspas dengan Taco Local dan Snctry. Butfirst memiliki dua meja yang terletak di halaman terbuka dan sisanya sekitar tiga atau empat lagi ada di bagian dalam. Yang menyenangkan dari Butfirst (selain kopinya tentunya) adalah adanya French boulangerie di lokasi yang sama. Penting sekali buat yang senang ngopi sambil ngemil seperti saya. Pergilah ke Butfirst buat mereka yang senang dengan pastries dan canelles seperti di Sophie Authentique atau Levant namun tidak puas dengan kopi yang mereka sediakan. Butfirst cocok untuk Anda yang membutuhkan ruang intim untuk curhat soal pribadi ke teman dan sepertinya bukan tempat yang tepat untuk arisan atau rapat.

Crematology

Berlokasi di Jalan Suryo, sepertinya Crematology sudah menjadi tujuan banyak orang untuk ngopi kalau dilihat dari ekspansinya yang sampai ke Cipete. Interior Crematology cukup nyaman dalam arti banyak sofa bertebaran dan kursi yang cukup. Pencahayaan di Crematology temaran sehingga bisa menjadi tantangan serius buat mereka yang biasa rapat atau bekerja dengan cahaya terang. Crematology cocok buat mereka yang ingin ngopi di tepian terluar Selatan karena lokasinya di Jalan Suryo yang belum terlalu menjorok lebih jauh ke jantung Jakarta Selatan. Hindari Crematology pada jam-jam rentan nongkrong seperti usai jam kantor atau petang di akhir minggu.

 

Monochrome

Monochrome berlokasi di dalam Plaza 88 Kemang yang memiliki patung kuda dan Spiderman merayap di gedungnya. Interior Monochrome cukup klasik sebagaimana warung kopi lainnya yang memilih warna gelap ketimbang terang atau temaram. Satu hal yang menyenangkan di Monochrome adalah mereka menyediakan piccolo alias baby latte. Cocok buat mereka yang membutuhkan cangkir latte kesekian namun dalam ukuran lebih sedikit. Monochrome relatif tenang suasananya sehingga cocok buat yang membutuhkan ketenangan untuk bekerja atau membaca. Monochrome memiliki display yang menampikan snack ringan sehingga cukup memberikan pilihan untuk ngemil.

Coffeesmith

Lokasi Coffeesmith di Duren Tiga membuatnya cukup unik karena sedikit terpisah dari episentrum warung kopi kekinian di sekitar Cipete-Senopati-Kemang. Semoga saya tidak salah catat bahwa Coffeesmith adalah satu-satunya warung kopi dari daftar ini yang menjual biji kopi single origin hasil roastingannya sendiri. Tersedia all-day-breakfast di Coffeesmith sehingga cocok buat yang mencari menu sarapan. Coffeesmith tepat buat mereka yang ingin rapat dan arisan namun kurang pas buat Anda hendak mencari ruang sendiri untuk membuka laptop untuk bekerja atau membaca.

Pertanyaan pentingnya, manakah warung kopi favorit saya? Bila saya ingin sendiri berkonsentrasi menamatkan bacaan atau menyelesaikan tunggakan pekerjaan kemungkinan besar saya memilih Butfirst. Tapi bila saya hendak nongkrong ngopi dari sore sampai malam nonstop bersama teman-teman dekat, saya akan ke Coffeesmith. Bonus tambahan buat yang mencari tempat shalat, lantai atas Coffesmith difungsikan sebagai musala juga.

Senang bukan semakin banyak pilihan tempat ngopi?

PS

Sebelum saya menutup tulisan singkat, sebetulnya ada satu lagi warung kapi yang terletak di Jeruk Purut. Sebagai pelanggan yang puas akan biji kopi pilihan Gordi (silakan cek situs mereka di sini), saya mampir di tempat mereka di daerah Jeruk Purut. Namun ketika tulisan ini saya unggah, sependek ingatan saya warung kopi Gordi statusnya pun belum soft opening sehingga belum saya cantumkan dalam daftar di atas. Meski demikian, yang cukup mengesankan dari mereka adalah mereka ingat saya ingin flat white yang lebih dark berdasarkan kunjungan sebelumnya dan pastries yang mereka sediakan dari Levant Boulangerie (juara!).

Review Buku: Semua Untuk Hindia (Iksaka Banu)

Semua Untuk Hindia: Menulis Fiksi Dengan Rendah Hati Tentang Sejarah

Satu kualitas yang jarang hadir dalam penulis Indonesia akhir-akhir ini adalah kerendahan hati dalam menghampiri subyek. Godaan untuk menjelajah subyek tertentu, dari jenis tumbuhan tertentu hingga peristiwa 1965 begitu dahsyat sehingga tidak jarang pembaca mendapat air bah informasi yang belum tentu relevan dengan cerita.

Untungnya tantangan ini bisa dijawab dengan cukup baik oleh kumpulan cerpen Iksaka Banu yang berjudul “Semua Untuk Hindia’. Memang buku ini sudah terbit setengah tahun lalu; artinya cukup terlambat untuk mengulas buku ini sekarang.  Cerpen-cerpen dalam Semua Untuk Hindia berkisah mengenai individu yang kebetulan berada di tempat dan waktu yang tercatat dalam sejarah Indonesia modern. Mayoritas individu-individu itu berkebangsaan Belanda dan menjadi saksi sejarah. Terkadang, bentuknya berupa perjumpaan antara seorang tokoh yang bernasib buruk (misalnya mengalami kecelakaan kereta atau menjadi tahanan) dengan pahlawan nasional Indonesia. Cerita lain yang sepertinya menjadi salah satu tema favorit pengarang adalah mengenai nyai. Institusi pergundikan khas tanah jajahan ini beberapa kali menjadi tema besar dari cerpen-cerpen Iksaka Banu. Beberapa peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang menjadi latar cerita antara lain pembantaian Cina di Jakarta tahun 1740, pemberontakan petani Banten tahun 1888 dan penyerbuan Inggris ke Jakarta tahun 1811. Sedikit banyak, membaca Semua Untuk Hindia akan mengingatkan kita pada seri Petit Histoire atau Sejarah Kecil Indonesia yang disusun oleh (alm) Rosihan Anwar.

Buat mereka yang gemar sejarah, cerita-cerita di kumpulan cerpen Iksaka Banu ini akan sangat mengasyikkan. Kita akan terpukau dan insaf betapa kecilnya manusia dalam gelombang sejarah. Meski mayoritas protagonis dalam kisah-kisah ini berkebangsaan Eropa (baca: penjajah), namun mereka dikonstruksikan oleh penulisnya memiliki humanisme tinggi pada orang-orang di tanah jajahan tersebut. Posisi si ‘aku’ yang seorang berpendidikan Barat tetap dalam kerangka seorang penjajah, tanpa terjebak menjadi sosok eksploitatif atau penyelamat. Hal ini menjadikan si aku sebagai penutur seperti figur yang mewakili suara penulis (atau pembaca?) sehingga mudah bagi pembaca untuk bersimpati padanya.

Dalam ceritanya, Iksaka Banu menunjukkan bahwa dalam posisi terjajah, bukan berarti apa yang dilakukan orang “Indonesia” pasti benar. Jatuhnya korban seperti penjual warung hingga balita di berbagai kejadian memberi isyarat bahwa pemaknaan terhadap sejarah tidak bisa hitam putih; terjajah bukan berarti pembenaran terhadap kekerasan.

Ada dua hal yang patut diapresiasi dari kumpulan cerpen Iksaka Banu ini. Pertama, penulis tidak berusaha menjejali pembaca dengan pengetahuan baru. Penulis lolos dari jebakan banyak fiksi yang berpretensi sastrawi; menganggap membeberkan banyak informasi mengenai topik tertentu akan meningkatkan kualitas tulisan. Kedua, penutup cerita yang memiliki optimisme yang khas. Penulis berhasil meyakinkan pembaca bahwa cerita selesai sampai titik tertentu; sisanya terserah pembaca. Model bertutur seperti ini sangat mendewasakan pembaca karena kita, sidang pembaca, dianggap cukup rasional untuk tidak merengek minta penulis berpanjang-panjang menghibur kami.

Yang mengganggu dari kumpulan cerpen ini justru adalah hal teknis dalam bercerita. Misalnya, bagaimanakah seseorang yang melihat massa beringas melalui teropong kemudian mendadak sudah diserang oleh massa tersebut (Tangan Ratu Adil)? Atau hubungan seorang wartawan Belanda dengan putri bangsawan Buleleng yang disebut sebagai “adik kecil”; mengapa harus ada pengistilahan seperti ini?

Kumpulan cerpen di Semua Untuk Hindia ini seperti permata yang belum diasah. Saya membayangkan kumpulan cerpen ini seperti menunggu pinangan untuk dijadikan film pendek atau menjadi bahan skenario film. Sudah memiliki nilai ekonomi namun perlu usaha lebih lanjut untuk menjadikannya cemerlang. Apabila Anda senang membaca kisah sejarah namun tidak mau terlalu berpelik-pelik dan tak mau terhina dengan dramatisasi berlebihan; Semua Untuk Hindia ini cocok untuk Anda. Namun, lupakan ini bila Anda ini bila Anda menghendaki kompleksitas dimensional dari semua tokoh-tokohnya. Pertanyaan penutup yang penting, akankah saya menyorongkan Semua Untuk Hindia bagi anak-anak saya? Jawabannya adalah ya, ketika mereka duduk di bangku SMA kelak.

Catatan

Apabila Anda ingin membaca buku ini, tambah kesenangan membaca Anda dengan menunda membaca Kata Pengantar yang ditulis oleh Nirwan Dewanto. Banyak spoilernya, sebaiknya dibaca terakhir sebelum Anda menutup buku.

Resensi Buku: Aruna dan Lidahnya karangan Laksmi Pamuntjak.

Resensi Buku

“Aruna & Lidahnya”: Imajinasi Investigasi dan Petualangan Kuliner Nusantara

Sebuah ide bisa jadi menarik secara konseptual namun ketika si penulis menuangkannya dalam bentuk fiksi, ternyata realitas tidak semenarik konsep. Menurut hemat saya, hal ini terjadi dalam novel “Aruna dan Lidahnya’, karangan Laksmi Pamuntjak. Novel kedua Laksmi Pamuntjak sesudah ‘Amba’ ini berkisah tentang petualangan seorang perempuan berusia 35 tahun dalam perjalanannya menyelidiki kasus flu burung di berbagai pelosok Nusantara. Aruna adalah seorang konsultan ahli wabah yang disewa kementerian kesehatan (dalam novel, penulis menyamarkan nama Kementerian Kesehatan menjadi ‘Kementerian Mabura’). Perjalanan keliling Nusantara dari Aceh hingga Lombok ini menjadi semacam wisata kuliner bagi Aruna, yang mengaku “ingin menjaga berat badan tapi tak bisa menahan nafsu makan’. Wisata kuliner Aruna ini dijalani Aruna dengan dalih menyelidiki kasus flu burung (atau sebaliknya?) bersama dengan tiga orang kawannya. Bono, seorang chef profesional yang telah menempuh pengalaman sampai New York dan mampu mengolah bakmi dengan foie gras serta Nadezdha, blasteran Sunda-Aceh-Perancis dan Persia; seorang konsultan gaya hidup yang sangat mempesona sehingga menurut Aruna bila dibandingkan dengan dirinya bagaikan ‘sampanye dan popcorn’. Terakhir, Farish, rekan sejawatnya dari kantor yang ditugaskan bepergian dalam menyelidiki wabah flu burung.

Dalam tuturnya, Laksmi Pamuntjak membeberkan pengetahuannya yang ekstensif soal kekayaan kuliner Indonesia. Menulis soal ragam kuliner Indonesia tentunya bukan sesuatu yang asing bagi penulis, mengingat ia memiliki empat buku panduan makan enak, The Jakarta Good Food Guide. Membaca petualangan kuliner Aruna dan teman-temannya; kita akan diajak blusukan akan mafhum betapa nyaris tak bertepinya kekayaan serta budaya kuliner Indonesia. Ada rujak soto yang dipertanyakan Bono (‘kalau rujak soto, lebih banyak rujaknya. Kalau soto rujak, lebih banyak soto dibanding rujak’) hingga tradisi memasak di Aceh yang sebetulnya lebih banyak dipegang oleh kaum pria.

Bila kita sejenak memberi jarak dari ketersimaan kita akan penjelajahan kuliner Indonesia oleh Aruna dan kawan-kawannya, sebetulnya apakah yang coba diceritakan oleh penulis dalam novel ini? Petualangan kuliner dibungkus perjalanan menyelidiki wabah flu burung atau sebaliknya? Yang cukup jelas terbaca adalah “Aruna dan Lidahnya” sama sekali bukan novel yang bergerak karena karakter dan akibat atas pilihan-pilihan yang diambil si karakter tersebut. Apabila novel ini bermaksud menjelajah kuliner Indonesia; tidak tampak ada perubahan yang terjadi, baik atas fragmen hidup yang dilakoni Aruna sang protagonis sebagai konsekuensi pilihan kulinernya misalnya. Apabila novel ini bermaksud mengajak pembacanya menginvestigasi segala sesuatu berkaitan pengambilan keputusan sehubungan isu flu burung; tidak tampak juga keberhasilan mereka dalam mengungkap fakta baru selain kasak-kusuk soal penugasan investigasi tersebut.

Dari sisi penokohan serta plot sendiri; menurut hemat saya banyak bagian kisah yang sebetulnya tidak terlalu perlu atau tujuannya bisa dipertanyakan. Misalnya bagian empat pria yang adu tebak usia dan asal anggur adalah bagaikan etalase yang gagal tampil berkelas soal pengetahuan akan anggur. Apabila ada tuturan yang layak mendapat pujian adalah bagian percakapan Aruna dengan seorang pasien suspek flu burung di Palembang. Pengetahuan yang dimiliki Laksmi Pamuntjak mengenai kuliner Palembang mengalir berjalin dengan cerita dengan cukup rapi sehingga tidak terkesan sebagai tempelan belaka. Mengenai bangunan karakter yang ada di novel; Aruna sebagai sosok utama sangat mengesankan dan manusiawi. Manusiawinya Aruna membuat pembaca bisa dengan mudah mengidentifikasi aspek pribadi mereka dengan perilaku Aruna. Kontras dengan Nadezhda tampil membahana secara fisik dan intelektual; dari penguasaannya soal kuliner hingga keterampilannya di ranjang. Hal ini bisa membuat pembaca berpikir apabila bersuami dan menjadi ibu adalah puncak capaian perempuan; maka hanya untuk soal itu sajalah Nadezhda berkekurangan. Keunggulan Nadezhda dari segala jurusan ini cukup membosankan dibacanya karena konflik yang dialami Nadezhda tidak cukup menghidupkannya sebagai manusia; seperti layaknya Aruna. Sosok Bono sendiri sebagai chef sayang sekali tidak dielaborasi dengan maksimal padahal pemosisian ‘Aruna dan Lidahnya’ sebagai kisah kuliner seharusnya mampu lebih banyak menjelajahi kefasihan seorang koki ketika terpapar dengan berbagai menu sebagaimana yang dijalani Bono. Juga Farish sebagai rekan kerja Aruna yang dicitrakan dalam novel sebagai (mantan) aktivis terkesan komikal dan pembangunan karakternya seakan-akan disiapkan hanya untuk melayani tujuan romantis belaka.

Seorang pembaca secara naluriah akan membandingkan “Aruna dan Lidahnya” dengan novel Laksmi Pamuntjak sebelumnya, yaitu “Amba”. Novel Amba jelas memiliki bobot dan corak tulisan yang berbeda; cerita soal konflik peristiwa G30S/PKI nyaris musykil dituturkan dengan ringan sebagaimana “Aruna dan Lidahnya”. Namun meski Amba bertutur dengan kalimat berat serta berpuisi, ada konsistensi penulis hingga akhir bab dengan gaya bertutur semacam itu. Berbeda sekali dengan ‘Aruna dan Lidahnya”. Di bab pertama pembaca diajak membaca sebuah paragraf lebih dari tiga halaman tanpa titik sama sekali. Meski dalam lembar terima kasih halaman belakang penulis mengaku bahwa ia mengambil inspirasi dari buku lain; namun model penulisan seperti ini melelahkan pembaca. Melelahkan terutama karena terlihat inkonsisten dengan gaya bercerita yang diangkat dalam bab-bab berikutnya.

Namun sayangnya hal serupa diulangi penulis di halaman 257 ketika Aruna berkisah soal perjalanannya di Pontianak. Separuh halaman berupa 29 baris lanjutan dari kalimat di halaman sebelumnya; yang terdiri dari 62 kata yang berhubungan makanan. Apakah yang diharapkan penulis dari pembaca ketika menuliskan baris-baris itu? Keterpesonaan atas betapa telitinya jangkauan pandang Aruna sebagai penutur?

Perhatikan juga penggunaan kata ‘dan’ di awal kalimat di novel ini. Apabila Anda, pembaca memerhatikan dalam tulisan resensi ini hanya paragraf dua yang tidak memiliki kata ‘dan’ di awal kalimat? Bayangkan, bahwa dari 400 halaman novel “Aruna dan Lidahnya”; ada 134 kata ‘dan’ di awal kalimat. Hal ini menunjukkan pentingnya peran editor ketika mengedit naskah; karena pengulangan yang terlalu sering seperti ini mengganggu kenyamanan membaca. Bagian lain dari novel yang membutuhkan peran editor adalah beberapa inkonsistensi tersebar antara lain penggunaan singkatan “LSM” versus “en-ji-o”. Apabila ada maksud dalam pembedaan penggunaan dua singkatan ini, seharusnya terefleksikan dalam bagian lain di novel ini. Selain itu, pembedaan penggunaan aplikasi pengiriman pesan di ponsel oleh para tokoh di “Aruna dan Lidahnya” sedikit banyak menimbulkan pertanyaan juga. Mengapa penulis tidak konsisten saja memilih satu aplikasi komunikasi di telepon genggam? Mengapa harus ada pembedaan Bono di satu komunikasi menggunakan pesan pendek (SMS) sementara Aruna menggunakan aplikasi Whatsapp namun di halaman berikutnya dengan orang yang sama kalimat Aruna justru “Aku berhenti mengirim SMS”? Lagi-lagi apabila perbedaan penggunaan aplikasi ini ada maksudnya, sama sekali tidak tercermin sepanjang novel.

Satu hal lagi yang cukup mengganggu adalah cerita warga Singkawang mengenai sengketa pilkada. Tertulis dalam novel “..tapi beliau dikalahkan di tingkat Mahkamah Konstitusi”. Di tahun 2012, setiap sengketa yang berkaitan dengan hasil dan proses pilkada prosesnya ada di Mahkamah Konstitusi tanpa tingkat-tingkatan sebagaimana di peradilan umum. Bisa jadi hal ini membingungkan bagi awam, namun sebuah novel seharusnya tidak mengandung kesalahan mendasar soal proses legal formal seperti ini. Hal-hal semacam inilah yang menjadikan kebutuhan editor kompeten untuk karya fiksi Indonesia semakin mendesak.

Sebagai penutup, apakah novel ‘Aruna & Lidahnya” cukup enak dibaca dan perlu dan memenuhi janjinya sebagai novel kuliner? Menurut hemat saya sebagai pembaca, pemenuhan janji ini tidak sepenuhnya terjadi karena yang terwujud dalam novel ini adalah semata fiksionalisasi perjalanan icip-icip belaka. Apabila ada kedalaman baru yang terwujud setelah membaca ‘Amba’, maka ada posisi berbeda untuk ‘Aruna dan Lidahnya”. Apabila Anda mengharapkan ada petualangan seru atau drama manusia dengan bumbu kuliner, maka Anda akan kecewa bila memilih membaca “Aruna dan Lidahnya”.

Paling sehat adalah membaca “Aruna & Lidahnya ketika Anda hendak bertolak ke manapun. Baca novel ini ketika Anda berada di ruang tunggu stasiun atau pesawat. Harapannya, dengan membaca ‘Aruna’ akan akan menghargai kekayaan kuliner Nusantara dan meluangkan waktu untuk mencicipi berbagai jajanan dan masakan setempat di wilayah manapun Anda bepergian. Dengan pemosisian seperti ini, maka “Aruna & Lidahnya” mendapat ruang lebih baik dalam khazanah fiksi Indonesia.

Surat Untuk Papa Yang Akan Memilih Prabowo

Ketika ayah kita, satu-satunya ayah kita, memutuskan berseberangan secara politik dengan anak perempuan tertuanya; bagaimana perasaan kita? Sebagai seorang yang dididik untuk mampu mempertanggungjawabkan konsekuensi pilihannya; ini adalah pukulan berat. Mungkin Anda, para pembaca, sudah mafhum bahwa ayah saya akan memilih Prabowo sebagai presiden, sementara saya akan memilih Jokowi.

Tenang, tulisan ini bukan feel-good writing a la Chicken Soup of The Soul. Tulisan ini tidak bermaksud mengajak para pembaca untuk memahami situasi (yang seolah-olah) genting antara ayah dan anak. Pun tulisan ini tidak bermaksud menjadikan cinta sebagai penyangkal kehendak bebas manusia dalam berpolitik. Tulisan ini adalah surat cinta terbuka dari seorang anak perempuan kepada ayahnya.

—————–

Papa ingat ketika waktu SD Gita bertanya pada Papa mengapa Presiden Indonesia Suharto melulu? Entah apa jawaban Papa tapi malam itu setelah memandang Gita lama-lama, Papa membuat Gita berjanji bahwa Gita bebas bertanya apapun dan Papa menjawab sebaik-baiknya buat Gita. Dengan syarat, Gita hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu pada Papa. Setelah sekian lama waktu berlalu, Gita mafhum bahwa kanalisasi pertanyaan itu cara Papa melindungi anaknya dari rezim yang tidak memberi ruang pada kritisisme.

Rezim yang tidak memberi ruang pada kritisisme dan perbedaan kemungkinan kembali lagi bila Prabowo jadi presiden. Nihilnya ruang untuk perbedaan bisa dilihat dari contoh paling gampang, timses seolah dikomando mengenakan seragam sama. Tapi Pa, kita selalu bisa memulai perdebatan siapa yang lebih baik antara Jokowi atau Prabowo dari berbagai sudut bukan? Kita bisa mulai dari HAM, kebijakan energi, reformasi birokrasi, desentralisasi sampai politik luar negeri. Apa yang Papa dan Gita yakini penting kini begitu berjarak dan berbeda. Tapi masalahnya bukan di situ.

Orang yang akan Papa pilih jadi presiden kita memiliki jejak darah. Ia tak ragu menculik dan menyiksa atas nama keamanan; atas nama negara. Ia bersenjata dan tafsirnya atas keamanan adalah dengan menyiksa sesama manusia. Ia, Prabowo Subianto, percaya bahwa kulit yang teriris, jangat lebam membiru dan tubuh yang membeku akan baik bagi untuk rasa aman bernegara. Negara yang memberikan legitimasi atas keamanan seperti inilah yang menjadi mimpi Prabowo.

Adalah jemari Papa yang akan memilihnya.  Jemari Papa yang dulu mengelus rambut Gita dengan kasih ketika Gita menangis karena nilai matematika yang jelek; tangan Papa yang dulu dengan riang membantu Gita membangun istana pasir di Pangandaran (ingatkah Papa?); tangan Papa yang mengemudi mobil ketika kita sekeluarga bermobil keliling Jawa. Ya, tangan Papa itulah yang akan menusukkan paku ke gambar Prabowo dan menjadikannya Presiden Indonesia.

Gita tidak ikhlas bila tangan Papa yang sampai kini selalu penuh kasih pada Gita (dan anak-anak Gita; cucu Papa) membuka jalan pada seorang dengan jejak darah. Tangan Papa tak seharusnya berlumur darah. Biarkan ayah orang lain yang memilih Prabowo; tapi bukan Papa; bukan orang yang dipanggil opa oleh anak-anak Gita.

Dari semua kesalahan Papa sebagai manusia; janganlah memilih Prabowo menjadi salah satunya. Cari orang lain untuk menggantikan suara Papa memilih Prabowo. Gita terlalu sayang pada Papa untuk membiarkan Papa menggunakan hak pilih Papa untuk memilih salah satu orang dengan rekam jejak terburuk yang akan memimpin Indonesia.

Pick me, choose me, love me. Not Prabowo.

PS
Tentu tulisan ini hanya bisa disusun oleh seorang perempuan dewasa yang memiliki kemewahan pernah dilimpahi kasih sayang oleh ayahnya.

Review Rumah Makan Suntiang: Land of The Free and Home of The Brave

Ketika melihat menu bertuliskan ‘sushi rendang’ dan “ sushi ayam pop” di Rumah Makan Suntiang, yang terlintas di kepala saya adalah betapa berani dan bertajinya si koki. Koreksi: betapa pemberaninya pemodal restoran ini.  Rumah Suntiang adalah restoran Minang menggunakan pendekatan Jepang dalam pengolahan dan presentasi masakannya. Ide ini selintas sangat absurd karena masakan Jepang adalah hidangan yang amat sangat mementingkan  eloknya visualisasi, kesegaran bahan baku dan detail. Tentu ini bukan berarti masakan Minang tidak mementingkan semua hal tersebut, tapi siapa yang berani bilang rendang atau gulai otak adalah masakan yang masuk dalam kategori “segar” dalam kategori yang sama seperti sashimi misalnya? Soal visualisasi, penampakan masakan Minang dengan kecerahan warna-warninya jelas sangat menggugah selera, namun dengan cara yang amat sangat berbeda dengan tradisi kuliner Jepang. Namun koki Suntiang memungut perbenturan konsep ini dan mencoba menggubah sendiri konsep ‘asam di gunung garam di laut’ yang selalu diucapkan saat pernikahan adat Minang. Si koki (dan pemodalnya) mirip seperti tokoh pahlawan di lagu lama David Crosby ‘he know what he had to do and he wasn’t afraid to fight’.  Tapi apakah keberanian itu berbuah kemenangan? Mari kita lihat.

Bertiga, kami memesan masakan yang menurut kami paling absurd. Seperti oyakodon rendang (rice bowl rendang), ramen cabai hijau, edamame balado, sushi ayam panggang crispy, sushi rendang, lidah saus cabai hijau+asam padeh dan sushi ayam pop; kemudian kesempatan berbeda saya mencoba gulai  daun singkong dan ikan bilih cabai hijaunya.

Sushi rendang, sebagaimana pengetahuan umum kita mengenai sushi, adalah nasi yang dikepal dengan suwiran daging rendang yang teksturnya menyerupai dendeng balado. Bagi saya, sushi rendang ini tidak sebaik sushi ayam pop. Sushi ayam pop adalah, sekali lagi, kepalan nasi yang dengan nori yang dibubuhi suwiran ayam pop dengan sambalnya. Sushi ayam pop ini bagi saya cukup berhasil, karena gurih malu-malu ayam pop dikombinasikan dengan sambal khasnya ternyata masih mampu keluar mengatasi manis tawar khas nasi. Saya membayangkan orang-orang yang ingin menjaga porsi makannya bisa cocok menikmati sushi ayam pop ini karena tidak merasa berkewajiban menghabiskan seporsi nasi berlauk ayam pop.

Untuk menu oyakodon rendang bagi saya gagal total, karena yang saya hadapi adalah nasi mengepul panas dengan kocokan telur bertabur potongan dagin rendang. Sama sekali tidak istimewa dan hanya cocok bagi orang yang hendak mengajari balita makan rendang. Atau justru sebaliknya, bagi orang yang kesulitan mengunyah dan kemampuannya menikmati rendang dibatasi pada potongan rendang yang dikocok dalam telur. Ramen cabai hijaunya gagal membuang ingatan saya akan Indomie Goreng Cabai Hijau diberi kuah karena jejak Minang maupun Jepangnya absen dimana-mana.

Kegagalan Suntiang lainnya adalah pada ikan bilih cabai hijau dan edamame balado; yang membuat saya bertanya-tanya apakah pengetahuan dasar bahwa sebaik-baik ikan bilih adalah yang renyah tidak dimiliki oleh koki. Untuk edamame balado-nya sendiri mengingatkan saya pada film Eyes Wide Shut yang dibintangi Nicole Kidman dan Tom Cruise. Ide edamame dibubuhi sambal balado dan mengharapkan ada kimia yang cocok diantara dua unsur itu sama seperti film Eyes Wide Shut; seolah-olah adalah ide yang bagus memfilmkan Kidman dan Cruise tapi ternyata tidak; sama sekali tidak.

Meski demikian, sushi crispy ayam panggangnya dari semua kombinasi Jepang-Minangnya bagi saya cukup berhasil.  Bumbu ayam panggang masih relatif cukup terasa di kepalan sushi tersebut; namun karena nuansanya cukup berat sepertinya jenis sushi ini harus dinikmati sebagai hidangan utama.

Tapi apa artinya restoran Minang tanpa kita icipi rendangnya? Saya kemudian memesan sepotong rendang dan sesuap nasi. Tidak jelek, sama sekali tidak jelek namun juga tidak istimewa; kita bisa menemukan rendang yang sama di RM Sederhana kesayangan kita misalnya.  Masih penasaran kami mencoba ayam panggangnya. Singkat kata, ayam panggangnya RM Suntiang meringkaskan semua yang tepat mengenai ayam panggang khas Minang. Ada rasa hangat yang pelan-pelan timbul namun tidak pernah mencapai pedas serta nuansa ‘berat’ yang dihasilkan oleh santan yang digunakan sebagai bumbu perendam sebelum dipanggang.

Gulai daun singkong yang saya pesan ketika sampai warnanya masih hijau segar; membuat saya ragu apakah akan alot ketika dikunyah. Kuah gulainya cukup encer meski tidak sampai bening dan irisan cabai merah serta taburan teri medannya sangat menarik. Ketika dikombinasikan dengan nasi panas, akhirnya saya menemukan salah satu andalan RM Suntiang. Gulai daun singkong RM Suntiang menggunakan pucuk daun sehingga empuk dan tidak alot; menjadikannya sejenis sayur berkuah yang bisa kita nikmati cukup dengan nasi putih saja tanpa lauk lain.

Semua kegagalan RM Suntiang bagi saya terbayar dengan lidah cabai hijau dan asam padehnya. Visualnya adalah sebagai berikut: lidah sapi yang diiris tipis disusun di atas lapisan daun selada serta tumisan bawang bombay dengan jalur sambal hijau halus di sebelah kanan dan bumbu asam padeh (berbasis cabai dan asam kandis).  Aroma khas lidah yang dikombinasikan dengan bumbu asam padeh ini menurut saya cocok menjadikan menu ini sebagai andalan RM Suntiang.  Nafsu bisa membawa kita kalap menghabiskan sepiring lidah ini namun tahanlah diri; nikmati dengan nasi panas dan sayur daun singkongnya. Terbayar sudah semua kegagalan RM Suntiang dalam tulisan ini.Image

Saya tidak bisa menyangkal bahwa RM Suntiang tidak sepenuhnya sukses mengolah hidangan khas Minang dengan pendekatan Jepang. Bukan menafikan keberanian koki dan pemodalnya namun saya akan memilih untuk tidak menginventasikan begitu banyak sumber daya untuk menu yang jadinya tanggung seperti Ramen Cabai Hijau atau Edamame Balado. Justru untuk menu-menu tradisionalnya seperti gulai daun singkong dan inovasi lokal seperti lidah cabai hijau asam padeh yang maha dahsyat itu; RM Suntiang cemerlang betul dan senantiasa memanggil kembali.

Ada larik dari lagu kebangsaan AS  Star Spangled Banner yang terngiang setiap saya mengingat hidangan di RM Suntiang yaitu “the land of the free and the home of the brave”. Koki yang berusaha membebaskan masakan Minang menjadi hidangan dengan visual tertata baik khas Jepang serta mengkombinasikan menu tradisional klasik Minang dengan Jepang membutuhkan nyali luarbiasa. Keberanian ini yang menerbitkan rasa ingin tahu untuk kembali lagi ke RM Suntiang untuk mencicipi apa lagi inisiatif terkini koki, selain gulai daun singkong dan lidah cabai hijau asam padehnya.

Bukankah bebas mereka-reka resep leluhur dan menjualnya ke publik adalah salah satu bentuk kebebasan dan keberanian; persis sebagaimana larik lagu kebangsaan AS tersebut?

PS

Dessert andalan RM Suntiang yang menarik hati justru cheesecake dan hazelnut ice creamnya, ketimbang yang tradisional.

RM Suntiang berlokasi di Pondok Indah Mall 2.

 

Makan-Makan Trenggalek dan Kefamenanu/Kupang.

Dalam perjalanan kali ini saya berkesempatan melewatkan beberapa malam di Trenggalek, Kupang dan Kefamenanu. Buat yang belum tahu; Trenggalek adalah kabupaten yang  berlokasi di selatan Propinsi Jawa Timur. Sementara Kefamenanu adalah kota kabupaten Timor Tengah Utara di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT); tepatnya di pulau Timor. Tanpa bermaksud merendahkan; perjalanan ini semakin meyakinkan saya bahwa perkataan “Indonesia seharusnya bisa seperti (insert Singapura/Thailand/Malaysia)” adalah berisik tak terperi yang keluar dari mereka yang belum sadar betapa kompleksnya negeri ini.

Tapi mari kita sudahi negativitas dan beranjak pada hal-hal yang menyenangkan seperti makan-makan. Dalam setiap perjalanan saya (bersama siapapun yang menemani; baik keluarga maupun rekan kerja) selalu berusaha meluangkan waktu untuk menikmati makanan yang disukai warga setempat. Saya akan membagi berdasarkan lokasi; yaitu Trenggalek dan Kupang/Kefamenanu. Mari kita mulai.

Trenggalek

Menuju dan dalam kabupaten Trenggalek saya dua kali menyantap sate. Kesempatan pertama adalah dalam kota Kediri dimana saya makan sate ayam a la Ponorogo di kedai yang bernama Sate Kobong . Kuah kacangnya adalah kacang tanah yang digiling halus hingga nyaris menyerupai krim; mirip dengan Satay House Senayan. Ada rajangan bawang merah halus dan ulekan rawit merah sebagai pendamping sate ayam. Sebetulnya sate-nya sendiri tidak terlalu istimewa tapi saus kacangnya yang halus itu mampu mengangkat derajat sate ayam mendekati papan tengah klasemen.

 Sate Kambing Roso Lego

Sate kambing Roso Lego ini membuktikan bahwa apa-apa yang terlihat berwibawa di daerah itu seringkali adalah efek dari harapan kita yang kurang realistis. Meski terlihat unik dengan pojokan kecambah dan potongan jeruk nipis; sate kambing Roso Lego ini sebetulnya tidak berbeda dengan yang tukang sate kambing yang mangkal di pengkolan Jakarta. Mampirlah kemari untuk mengetahui cita rasa sate kambing bertabur kecambah dan kucuran jeruk nipis; bukan untuk yang lain.

Image

Nasi Gegok

Saya menyantap  nasi (sego) Gegok ini setelah bermobil sedikit mendaki di jalan-jalan kecil perbukitan sekitar Trenggalek. Intinya Sego Gegok ini adalah nasi putih dengan segenggam teri jengki dan sambal dibungkus daun pisang. Sego Gegok ini sedikit mengingatkan saya pada Nasi Krawu; meski variasinya ‘hanya’ teri. Yang mengagumkan dari Sego Gegok ini adalah nasinya yang tanak dan luarbiasa pulen. Abaikan Sego Gegok bila Anda memiliki hiburan lain atau menu brunch lebih baik di Trenggalek; tapi di pagi menjelang siang ketika kita tidak memiliki agenda apa-apa; duduk menikmati nasi bungkus teri pedas ditutup dengan kopi panas akan lebih menyenangkan bagi nyaris semua orang.

 

Image

Ayam Lodho

Apabila Anda sudah beruntung pernah ke Jember dan mencicipi Ayam Pedes di sana maka Ayam Lodho ini adalah variasinya.  Yang saya cicipi di Trenggalek, tepatnya di jalan raya antara Tulungagung dan Trenggalek adalah Ayam Lodho Pak Yusuf yang konon tersohor. Rumah makannya (saya bersantap di sini pada akhir bulan Oktober 2013) masih direnovasi dan lantainya masih plesteran semen sehingga meja terasa berdebu. Pada intinya ayam lodho adalah ayam panggang berkuah santan dengan aksen pedas berempah bertabur rawit merah utuh. Perbedaannya dengan Ayam Pedes Jember adalah pada nasinya. Nasi di Ayam Pedes Jember hanya nasi putih biasa sementara pada Ayam Lodho Trenggalek dilengkapi dengan rebusan daun singkong, kecambah dan urap.

Saya merasa rendah hati menghadapi sepiring nasi urap dan ayam lodho Pak Yusuf ini. Betapa lengkap tawaran yang dalam hidangan ini sementara betapa terbatasnya daya tampung pencernaan kita. Hanya ingatan akan kolesterol (dan melebarnya garis pinggang) yang mampu membuat kita berhenti menciduki kuah santan Ayam Lodho meski ayamnya sudah habis.

Image

 

Kefamenanu/Kupang

Pengalaman saya makan di Kefamenanu (5 jam bermobil dari Kupang) sebetulnya amat sangat singkat. Yang layak ditulis hanyalah sebuah warung Padang (di Kefa warung ini layak disebut rumah makan) dimana warga berjejal-jejal memesan nasi Padang. Hidangan untuk kami dihidangkan di meja (praktek standarnya di sana adalah memilih dari piring-piring di meja display). Meski yang saya santap hanya sate udang dan terung goreng (yang kemudian saya lumuri dengan sambal lado merah).  Ekspektasi saya minimal atas masakan Padang di Kefa ini. Tapi saya terkejut akan sate udang yang renyah dan masih panas serta terung yang digoreng dengan pas. Tidak ada sambal berlumur minyak hiperbolik ala terung goreng di DKI; sebaliknya pengunjung leluasa melumuri terung dengan sambal lado merah yang berwarna sedikit pucat namun kegarangan maksimal. Sayang saja nasi putihnya tidak cukup pulen sehingga sedikit mengurangi kenikmatan tapi secara umum, warung Padang 2 di Kefa ini sama sekali tidak ada alasan untuk minder bila dibandingkan dengan dunsanaknya di Jawa.

Image

Daging Sei

Selama di Kupang saya menikmati daging sei dalam tiga kesempatan. Pertama di RM Delicious, kedua di Depot Manna dan ketiga di RM Seafood Keti. Daging Sei adalah daging (bisa sapi atau babi) olahan yang dibumbui dan diasap secara tradisional untuk kemudian dimasak lagi sesuai selera. Saya mencicipi daging sei saus mentega, saus tiram dan masak rica-rica. Bayangkan irisan daging seruas jari beraroma asap dimakan dengan nasi panas. Aroma asap yang halus menurut hemat saya sangat pas bila dikombinasikan dengan sentuhan manis saus mentega atau aksen pedas kalem dari bumbu rica-rica. Salah satu rahasia memasak daging Sei menurut hemat saya ada pada irisan daun bawang dan cabai merah yang lebar-lebar sehingga selain menambah unsur estetika; juga menambah nuansa getir manis sehingga citarasa masakan menjadi lengkap. Saya sangat berharap agar daging Sei diolah dengan skala industrial secara masif sehingga bisa diakses oleh warga NKRI yang tidak berkesempatan ke NTT untuk bisa mencicipinya.

Berikut adalah tampilan daging sei saus mentega dan saus tiram.

Image

Secara khusus saya ingin membahas bagaimana sayur mayur terung diolah di Kupang. Dalam dua kesempatan saya menyantap terung yang dimasak dengan cara dan lokasi yang berbeda; satu digoreng sementara satu lagi ditumis cabai kecap. Keduanya matang dengan sempurna alias tidak dimasak terlalu lama sehingga aroma manisnya hilang serta pendekatan bumbu yang digunakan; khususnya untuk cabai kecap ternyata betul-betul juara belum pernah saya jumpai tumis terung dimasak sesempurna ini. Berikut adalah foto terung masak kecap di Depot Manna Kupang.

Image

Tulisan ini tidak saya tutup dengan nada kontemplatif berbau perenungan hasil inspirasi perjalanan. Melainkan dengan tantangan; adakah masakan ayam berkuah selain opor yang bisa diterima oleh seluruh lapisan masyarakat NKRI? Soto tidak termasuk hitungan tentu saja karena yang saya adu di sini adalah ayam potong 12 (atau 8) bukan ayam suir. Kontestan yang saya ajukan di sini adalah Ayam Lodho Trenggalek. Bagaimana dengan Anda?

 

Berbagi Pengalaman Perjalanan

  1. Akses ke air bersih di NTT sering menjadi kendala sehingga begitu ada kesempatan menggunakan WC; manfaatkan sebaik mungkin.
  2. Bagi muslim/muslimah yang ingin shalat; bila tiba waktunya dan ada masjid di sekitar Anda; bergegaslah shalat karena masjid jarang ditemui mengingat populasi warga NTT 90% Kristen/Katolik.
  3. Udara NTT (khususnya Pulau Timor) panas dan kering sert tidak semua tempat ber-AC. Deodoran dan baju menyerap keringat adalah sahabat terbaik Anda. 

Tokyo Skipjack

Setiap ada restoran yang memanggang steak yang dibilang lezat saya selalu berusaha mencicipi. Mungkin faktor tekanan pergaulan tapi ada juga keingintahuan; apa lagikah yang Anda tawarkan di belantara steak Jakarta? Sebelumnya, steak dan Jakarta adalah kombinasi janggal mirip mandi matahari di Oslo.  Tapi nyaris di setiap perempatan kini memiliki kedai steak. Target operasi saya biasanya adalah kedai yang steak termurahnya tidak lebih dari harga 125 ribu rupiah (tidak termasuk minum). Bila harga steak termurahnya lebih dari itu saya akan memesan minuman dingin dan pelan-pelan berlalu serta hanya kembali bila ada alternatif intervensi pembiayaan konsumsi .

Berkali-kali saya mendengar Tokyo Skipjack dari beberapa teman baru-baru ini saja saya berkesempatan mencicipi. Saya selalu memesan steak termurah; biasanya sirloin. Selain karena alasan utama panggangan lemak di sirloin; saya ingin tahu bagaimana jurumasak memperlakukan strata terendah dari panggangannya yaitu sirloin. Wajar bila tenderloin dan rib-eye yang lebih mahal diperlakukan dengan perhatian ekstra sehingga bagi saya ukurannya adalah daging yang termarginalkan.

Sirloin NZ yang saya pesan penampilannya cukup memuaskan dalam arti saya tidak kecewa ketika dihidangkan oleh pramusaji. Pendamping yang saya pilih adalah Gomae Salad yaitu bayam Jepang diaduk dengan racikan kecap Jepang dan ditaburi wijen serta Mitsuba Mash (mashed potato). Saus yang saya coba pada kesempatan itu adalah Chimicurri (khas Argentina; rajangan peterseli, oregano, bawang putih, garam serta cuka) serta BBQ biasa. Sirloin steak dari Skipjack bagi saya tidak istimewa betul tapi juga sama sekali tidak jelek.  Pesanan medium well saya datang tanpa keluhan berarti namun akan lebih baik bila selemah-lemah iman juru panggang Skipjack untuk minimal mematangkan urat-urat daging. Saus rendaman sirloin kadar garamnya cukup bagi saya; tidak sampai terasa asin seperti Holycow. Gomae Salad sebagai side dish sangat mencuri perhatian karena bayamnya segar dan memberi kombinasi ilusif bahwa kita sedang melakukan tindakan yang benar dengan mengkonsumsi sayuran bersama steak. Meski kadar garamnya sedikit berlebih tapi mengunyah potongan sirloin dengan Gomae Salad merupakan percobaan menarik bila kita memilih menikmati steak tanpa saus sama sekali. Satu makanan pendamping lain yang layak disebut adalah Corn Batayaki atau jagung bakar oles mentega. Singkatnya, corn on the cob. Variasi Corn Batayaki ini adalah alternatif yang cocok apabila Anda bosan ditawari pilihan french fries atau mashed potato.

Namun bintang sesungguhnya dari Tokyo Skipjack adalah saus-sausnya. Sepertinya manajemen Tokyo Skipjack sadar betul bahwa warga Jakarta tidak memiliki tuntutan terlalu tinggi untuk daging steak yang berkualitas sehingga inovasi maksimalnya justru di saus. Saus Chimicurri ini misalnya. Bagi mereka yang membutuhkan imbangan tepat dari citarasa daging yang berat; saus Chimicurri ini seperti mengajak kita menikmati maha perosotan di rongga mulut. Anda tentu tahu rasanya naik perosotan bukan? Ada detik-detik ketika tubuh kita mengalami perpindahan ketinggian secara drastis dan jantung seperti jatuh ke perut.  Seperti itulah kombinasi sirloin dengan Chimicurri.

Saus-saus lain yang saya icipi dalam beberapa kesempatan berbeda antara lain Honey Mustard, Coffee BBQ,  Wasabi Butter dan Creamy Mushroom. Honey Mustard bagi saya terlalu manis seperti mengabaikan khittah mustard. Coffee BBQ adalah saus BBQ yang lebih gelap dengan kadar masam lebih sedikit dibanding BBQ orisinal. Sementara Creamy Mushroom berlalu tanpa kesan dan Wasabi Butter dugaan saya akan disenangi oleh para penggemar Wasabi di ibukota.

Satu hal menarik lagi di Tokyo Skipjack adalah es tehnya (ocha). Ketika kita memesan “ocha” di Jakarta, asumsi kita yang disuguhkan adalah teh hijau Jepang. Namun di Tokyo Skipjack justru yang disuguhkan adalah teh hitam Jepang tawar dibubuhi batu es.  Saya teringat beberapa waktu lalu ketika saya untuk pertama kalinya minum teh hitam Jepang di Tokyo. Rasanya bulat sempurna tanpa pahit kesat ala teh Jawa atau aroma melati/vanili tambahan; sehingga efek pembersihan yang diharapkan seusai mengunyah irisan steak terwujud tanpa terjebak efek rural khas teh Indonesia.

Di tengah pertarungan steak kelas menengah di Jakarta, akankah Tokyo Skipjack bertahan? Saya berharap begitu. Ekspektasi minimal steak sudah terpenuhi di sini ditambah perluasan wacana saus steak yang bagi saya penting untuk meruntuhkan dominasi serba creamy  (baca: berbasis mayones) di pelbagai hidangan; tidak terbatas pada steak saja. Pluralisme warga Jakarta harus diperkaya dengan wacana saus steak; agar kita tidak terjebak pada BBQ & mushroom melulu; apalagi tafsir terbaru saus mushroom kita sekarang mulai dibatasi pada versi creamy yang tidak mengindahkan keseimbangan rasa di syaraf pencecap lidah.

Image

NZ Sirloin Steak with Chimicurri Sauce

Steak di Tokyo Skipjack adalah tafsir Jepang akan steak yang dilakukan oleh orang Indonesia dimana salah satu saus andalannya adalah khas Argentina. Menilik fakta ini sepertinya menjadi pluralis untuk kebutuhan primer ternyata tidak susah betul untuk warga DKI. Namun mengapa untuk sesuatu yang ‘lain’ (misalkan tafsir beragama atau soal LGBT) ternyata penerimaan itu begitu sulit? Semoga bangunan kolesterol hasil menyantap terlalu banyak steak bisa membantu kita memberi jawaban atas pertanyaan tersebut.

PS

Satu alasan mengapa saya akan kembali ke Tokyo Skipjack. Mereka menyediakan kopi dengan kualitas cukup lumayan sehingga tidak membuat kita harus pintong (pindah tongkrongan) hanya untuk secangkir kopi.