Petualangan Komodo: Kedua.

Hari Keempat

Komodo-Pink Beach dan Gili Lawa

Pagi itu kami merapat ke Pulau Komodo. Menurut Ihsan, di Taman Nasional, selama kita berada di kawasan tersebut maka wajib membeli tiket masuk secara harian. Harga tiket memperhitungkan aktivitas misalnya snorkeling atau diving? Hitungan ini menentukan harga tiket yang harus dibayar. Kebangsaan pengunjung juga mempengaruhi harga tiket. Rencananya, kami hanya akan membeli tiket masuk namun tidak trekking di Pulau Komodo karena memilih untuk menghabiskan waktu lebih lama di Pink Beach.

Sampai di kantor ranger Komodo kami mengantri bersama-sama turis lain dan di tepampang di dinding kantor ranger legenda Putri Komodo. Sangat menarik melihat interaksi ranger dengan turis asing selama di Komodo. Saat kami di sana seorang ranger membuka pembicaraan dengan turis AS mengenai Donald Trump. Ranger itu membuka percakapan bertanya asal negara para turis yang sedang mengantri. Satu turis menjawab ia berasal dari AS. Si ranger langsung bertanya mengenai kabar Trump yang kemudian dijawab oleh turis bahwa Trump adalah “not my favorite President”. Ranger kemudian bertanya lagi apakah ia merupakan pemilih Trump. Turis AS tersebut menjawab dengan diplomatis “people who voted for Trump won’t be travelling this far!” Cukup menghibur melihat interaksi ranger dengan turis-turis asing ini. Penguasaan bahasa Inggris juga ranger relatif baik, mengingat syarat pendidikan cukup lulusan SMA.

Dermaga di Pulau Komodo. Karena tidak trekking jadi semua hanya bersandal jepit.

Foto Dermaga Komodo

 

Sesudah membayar tiket masuk kawasan dan membeli souvenir kami segera kembali ke kapal, bersiap menuju Pink Beach. Pink Beach (atau Pantai Merah) adalah pantai di pulau Komodo yang pasirnya berwarna semu kemerahan. Mengapa pantai ini berwarna semu merah jambu, kami tidak kompeten menjawabnya. Namun ketika meraup pasirnya, terlihat ada butiran koral halus berwarna merah. Mungkin ini pembeda pasir di Pink Beach dengan pantai-pantai lain.

Foto Pasir Pink Beach.jpg

Pengalaman yang ditawarkan oleh Pink Beach sangat lengkap bagi kami semua. Pink Beach memiliki terumbu karang yang luar biasa indahnya untuk snorkeling dan anak-anak bisa bermain pasir dengan puas. Salah satu kegemaran baru kami adalah renang dengan gaya punggung sambil memandang tebing karang di kanan kiri serta langit biru di atas kemudian langsung membalikkan badan untuk snorkeling melihat ikan dan terumbu karang warna warni.

Menurut Ihsan, pasir di Pink Beach beberapa tahun lalu warna pinknya masih kuat bukan hanya di bibir laut. Rupanya banyak kapal dan pengunjung yang membawa pulang pasir-pasir ini untuk mendekor kapalnya serta untuk kenang-kenangan.

Janji warna merah jambu di Pink Beach memang tidak sejambon perkiraan awal, tapi membahananya pemandangan bawah laut ketika snorkeling membayar semuanya. Bahwa berkurangnya warna merah jambu itu karena kontribusi manusia bisa mempengaruhi liburan kita, apalagi dengan menyadari bahwa kemungkinan besar cucu-cucu kita tidak bisa menikmati Pink Beach karena warnanya tidak pink lagi.

Tapi pasir Pink Beach sementara ini minimal bisa memberikan kesenangan dikubur di pasir bagi anak-anak :D.Foto Anak-Anak Pink Beach.jpg

Semakin pagi di Pink Beach lebih baik karena lebih siang kapal-kapal yang merapat membawa turis makin banyak berdatangan. Yang sedikit memusingkan adalah lalu lintas sekoci bila merapat ke pantai kalau tidak berhati-hati bisa membahayakan turis yang sedang snorkeling. Semoga ada masanya perlu ada pengaturan turis di Pink Beach karena bisa pendek umur terumbu karang serta makin habis pasir berwarna pink karena banyaknya kunjungan.

Selesai dari Pink Beach, koki Kahar sudah menyiapkan makan siang untuk kami. Kali ini makan siangnya adalah bakwan mie, ikan kuah kuning, tumis kacang panjang dengan wortel, udang goreng tepung, caisim tumis jamur dan telur ceplok kecap. Seperti biasa menu makan siang dari Kahar membuat kami terlelap dengan sukses.

Foto Makan Siang Telur Ceplok Kecap

Tujuan berikutnya adalah Gili Lawa. Sambil menikmati teh dan kopi serta pisang bakar keju bikinan Kahar, kami bertanya pada Kandar kapten kapal, ada apakah di Gili Lawa? Rupanya ada sedikit trekking di Gili Lawa mendaki bukit untuk memandang matahari terbenam. Ada beberapa kapal di teluk Gili Lawa yang berlabuh dengan tujuan sama. Kami bertolak dengan sekoci dari kapal menuju pulau Gili Lawa, selama kurang lebih lima menit. Di perjalanan pendek itu sempat terlintas di benak kami bahwa pemandangan pulau-pulau di kanan-kiri kami sedikit mirip di film-film.

Foto Athar Gili Lawa

 

Sepintas ide menonton matahari terbenam di Gili Lawa biasa-biasa saja. Tapi kami lupa dengan takdir memotret senja di kepulauan Komodo (dan Labuan Bajo). Yaitu cekrek foto senja di manapun, hasilnya selalu luar biasa. Jadi bila ingin punya koleksi foto matahari terbenam yang dahsyat, semangatlah di Gili Lawa.

Ini adalah foto matahari terbenam yang menjadi template siapapun yang pernah memotret senja di Gili Lawa.

Foto Sunset Gili Lawa

Setiap senja memiliki pemburunya. Berikut tampilan foto para pemburu senja di Gili Lawa.

Foto Sunset Hunter.jpg

Ada sedikit pemandangan yang mengganggu di Gili Lawa. Ada sampah di sana-sini di pinggir pantai, meski kalau sepenglihatan kami sampah tersebut bukanlah buangan dari turis. Menurut Ihsan, sampah tersebut adalah hanyutan dari laut yang arusnya mengarah ke pulau Gili Lawa, bukan buangan turis. Sependek pengamatan kami, rata-rata kapal cukup tertib mengelola sampahnya dalam arti ditampung semua di plastik hitam besar untuk kemudian dikumpulkan (dan sepertinya) di buang saat merapat di pelabuhan Labuan Bajo. Masih menurut Ihsan juga, seminggu sekali petugas Dinas Kebersihan akan keliling dari pulau ke pulau untuk mengumpulkan sampah.

Kembali ke senja. Matahari di Gili Lawa betul-betul pemurah menerbitkan cantiknya. Seolah-olah cerpen masyhur Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Negeri Senja menemukan justifikasinya di Gili Lawa (dan sebetulnya, mulai dari Labuan Bajo). Setiap sudut memiliki cuplikan senja yang mampu melahirkan keterpukauannya sendiri. Biasnya saja bisa menerbitkan palet seindah ini.

Foto Senja Tanpa Matahari.jpg

Kami adalah pengunjung terakhir di Gili Lawa di sore itu. Mendahului kami adalah sebuah keluarga yang sepertinya entah berasal dari Jakarta atau Bandung yang sebelumnya kami lihat juga di Pulau Rinca, Komodo dan Pink Beach. Ketika turun dari Gili Lawa kami tak sengaja mendengar si anak meminta ibunya (yang kebetulan asyik memotret) agar mempercepat langkah karena kasihan pada guide mereka yang harus mendayung. Kemudian kami mengetahui rupanya ada kesepakatan antara guide mereka dengan kapal kami agar mereka bisa meminjam sekoci daripada harus mendayung. Satu hal yang kami pelajari dari beberapa hari di kapal, yaitu antar kapal tolong menolong sangat kuat. Dari Pink Beach di sekoci kami ada seorang ABK dari kapal lain yang menumpang untuk didrop di kapalnya

Malam terakhir kami di atas kapal koki Kahar berusaha memastikan semua anggota rombongan kenyang sekenyang-kenyangnya. Bakwan mie, tumis sawi dengan wortel, oseng-oseng sosis dan jagung manis serta ayam bakar kecap. Satu sentuhan rutin dari Kahar adalah ia selalu menyediakan entah kentang goreng, nugget atau aneka seafood yang digoreng tepung. Kami menduga serba goreng tepung ini untuk antisipasi anak-anak yang pemilih makan. Abaikan foto pisang bakar keju di bawah secara bukan bagian dari makan malam, namun sisa snack sore.

Foto Makan Malam Terakhir.jpg

Godaan untuk mengabadikan matahari terbenam di Di Gili Lawa ada seorang turis asing yang berlari dari tempat kami untuk berburu matahari terbenam ke bukit yang lebih tinggi. Berikut adalah fotonya sebagai perpisahan dengan senja Gili Lawa.

Foto Bule dan Senja.jpg

ps

Janganlah terlalu krater apakah anak-anak akan menikmati perjalanan yang serba alam atau tidak. Justru ketika mereka di tempat terbuka bisa menemukan banyak banyak kegembiraan seperti sekedar mengamati semut atau melakukan photo-bomb ketika ibunya hendak berfoto. Berikut contohnya.

Foto Macis Yaya dan Yay..jpg

Pelajaran Hari Keempat

1. Trekking di Pulau Komodo sebetulnya pilihan saja. Buat yang hobi trekking tentu silakan lanjut, tapi bagi yang ingin cepat-cepat snorkeling di Pink Beach sebaiknya hanya membayar tiket masuk kemudian bergegas.
2. Bila Anda ingin membeli souvenir (yang sebetulnya pilhannya terbatas juga), lokasinya selain di toko besar dekat bandara Labuan Bajo, ada juga di Pulau Komodo ini.
3. Tolong hindari memberi makan ke ikan di manapun. Di Pink Beach ada keluarga yang memberi roti ke ikan. Selain membuat kotor, apakah roti itu makanan ikan? Ingat, Anda sedang di Taman Nasional, jangan perlakukan ikan di terumbu karang seperti ikan gurame siap santap di restoran Sunda.
4. Jangan lupa bawa snack DAN air putih ketika di Pink Beach karena saking asyiknya snorkeling serta main pasir bisa lupa waktu kehausan dan kelaparan.
5. Periksa apakah kapal menyediakan sleeping bag. Bila tidak tersedia, sebaiknya bawa. Meski tidak dingin, angin di kapal cukup dahsyat bisa menerbangkan selimut atau sarung jadi sleeping bag bisa sangat membantu.

Hari Kelima

Pulau Kecil Tak Bernama- Pulau Sebayur-Pulau Kanawa

Pagi terakhir di Gili Lawa ini langit agak sedikit kelabu sehingga ada kekhawatiran akan turun hujan. Rencananya pagi terakhir ini kami akan mampir di sebuah pulau tak bertuan yang hanya muncul ketika air laut surut. Kemarin kami melewati pulau serupa dekat Manta Point, tapi berhubung tidak ada penvmpakan Manta jadi kami tidak berhenti. Lokasi pulau mungil ini berada di antara Gili Lawa dan Pulau Sebayur. Keliling pulau tersebut mungkin antara 50m2-100m2 saking kecilnya. Mirip pulau di Pirates of The Carribean pada adegan kejar-kejaran antara Johnny Depp dan Penelope Cruz buat yang masih ingat filmnya.

Berikut tampilan panorama dari pulau tak bernama tersebut.

Foto Panorama Pulau.jpg

Awalnya kami berpikir di pulau seperti itu hanya bisa berfoto saja karena rentang waktu yang tersedia terlalu singkat untuk melakukan aktivitas lain. Tapi ternyata ketika kami sampai ada beberapa orang yang sedang mempersiapkan tenda, bean bag serta meja kursi untuk makan siang. Rupanya pulau mungil itu bisa menjadi lokasi makan siang!

Apabila di pantai-pantai lain, ombak hanya bertemu dengan pasir, namun di pulau kecil ini ombak ternyata bertemu.

Foto Kakak Pulau .jpg

Pasir di pulau ini ternyata berwarna merah jambu. Kami jadi curiga, sebetulnya semburat merah jambu memang khas pulau-pulau di perairan Komodo ini, tidak eksklusif di Pink Beach saja. Meninggalkan pulau kecil berpasir merah jambu ini rupanya jadi salah satu perpisahan terberat buat kami.

Foto Pasir Pink Pulau

Tujuan kami berikutnya adalah snorkeling di Pulau Sebayur. Kami sampai di Pulau Sebayur kira-kira jam 9.30 pagi. Sebayur adalah pulau tak berpenghuni meski di salah satu pulaunya menjadi resor untuk turis yang gemar diving. Salah satu keistimewaan snorkeling di Sebayur adalah moluska yang berwarna-warni.

Moluska yang kami maksud itu mirip dengan cangkang mutiara yang menjadi tempat tidur tokoh kartun Ariel di Little Mermaid-nya Disney. Bayangkan kerang memiliki semacam renda yang pinggirnya berwarna ungu terang atau tosca kemudian mendadak mengatup ketika kita melintas di atasnya. Moluska seperti ini banyak terlihat dan kecantikannya menjadikan Sebayur spesial. Saat itu hanya kami yang snorkeling di Sebayur sehingga pantai seolah-olah milik sendiri.

Foto Sebayur Dari Atas.jpg

Salah satu hewan yang paling ditakuti ketika snorkeling adalah bulu babi alias sea urchin. Di Sebayur-lah pertama kali kami bersua dengan bulu babi yang bersembunyi di balik celah-celah koral. Mengapa takut pada bulu babi? Meski bulu babi merupakan hidangan sashimi yang dahsyat, tapi sengatan duri-durinya menyakitkan. Sebayur sendiri sebagai pantai memiliki laut yang tenang apalagi saat itu turisnya hanya kami sehingga cukup lama kami menghabiskan waktu di pantai maupun snorkeling.

Foto Sebayur Dari Samping.jpg

Pada saat kami naik ke kapal menjelang waktu makan siang, tercium aroma yang sedikit lain. Rupanya koki Kahar sebagai hidangan perpisahan menyiapkan agar-agar sebagai pencuci mulut buat kami. Makan siang terakhir kami di Laba-Laba Boat adalah cumi kuah kuning, ikan bakar, tumis kerang pedas, udang kuah serta sop sayuran. Betul-betul pesta hidangan laut terbaik siang terakhir di atas kapal.

Foto Maksi Terakhir.jpg

 

Sesudah makan siang, kapten Iskandar mengarahkan kapal ke perhentian terakhir sebelum Labuan Bajo yaitu Pulau Kanawa. Di Kanawa terdapat resor sehingga boat tidak bisa dekat merapat ke pantai. Duduk di resor ini harus membayar 100 ribu meski tidak ada kewajiban untuk memesan apa-apa di restorannya. Ketika kami turun dari boat dan mulai berenang menuju pantai, ternyata banyak bulu babi bergerombol di dasar! Untungnya kami menggunakan pelampung jadi mengambangnya cukup tinggi. Satu pengalaman berkesan di Kanawa adalah adanya sejenis ikan yang rupanya cukup agresif pada turis yang snorkeling. Kami merasa diikuti oleh ikan tersebut kemudian ada turis lain yang mengaku pipinya “digigit” oleh ikan tersebut meskipun tidak sakit. Meski koral di Kanawa menurut hemat kami belum secantik di Pink Beach atau di Sebayur, banyak bintang laut bertebaran di perairan dangkalnya sehingga menarik bagi anak-anak.

Foto Kakak dan Bintang Laut.jpg

Siang itu kami harus mengucapkan perpisahan pada perairan Komodo. Karena harus meluncur kembali ke Labuan Bajo. Turun dari kapal, berfoto dulu bersama kapten Iskandar, koki Kahar dan ABK Ihsan sambil berterima kasih untuk kerja kerasnya yang membuat pengalaman kami sangat berkesan. Kami sangat merekomendasikan kapal beserta kru-nya Laba-Laba Boat. Semua kru sangat menjaga kebersihan, komunikatif serta mengutamakan keamanan.

Berbaju hitam di depan adalah Ihsan si ABK yang riang gembira mendampingi kami di setiap perhentian, berbaju biru di tengah belakang adalah Kahar sang juru masak kemudian di sebelah kiri Kahar adalah Iskandar kapten kapal.

Foto Kru Kapal.jpg

Sesampai di hotel kami langsung menuju Sunset Hill Hotel untuk menginap semalam. Malamnya kami bersantap di Mediterraneo dan keesokan harinya kami brunch di Bajo Bakery dan Bajo Taco yang menyediakan makanan Meksiko. Adanya makanan Meksiko di Labuan Bajo merupakan kejutan menyenangkan karena tak terbayangkan sebelumnya di tempat sejauh ini ada hidangan Meksiko.

Foto Bajo Taco.jpg

 

Tentu saja berat berpisah dengan tempat seindah Labuan Bajo dan kepulauan Komodo. Sebagai penutup dan salam perpisahan pada perairan Komodo, sebagian dari kami terjun ke laut kemudian berenang dan naik ke kapal. Ketika membereskan baju-baju renang yang masih basah sesampai di Jakarta, mendadak ada rasa sentimen yang menyeruak. Air yang tersisa itu berasal dari laut dan kepulauan ribuan kilometer jaraknya dengan bahasa yang terdengar asing. Namun dengan mereka yang jauh itu kita berbagi identitas kolektif bersama yang bernama Indonesia.

Foto Berenang Laut Komodo

Pelajaran Hari Kelima

1. Sebaiknya luangkan waktu untuk beristirahat barang semalam di Labuan Bajo untuk berkemas dan membersihkan diri secara baik mengingat kesempatan untuk melakukan ini terbatas apabila di kapal.
2. Bermurah hatilah ketika memberikan tip untuk awak kapal terutama apabila mereka berusaha keras untuk menjadikan perjalanan Anda nyaman.
3. Sangat merekomendasikan kopi Flores terutama yang masih biji sebagai oleh-oleh, apalagi buat penggemar kopi. Perhatikan bahwa nyaris tidak terlihat kopi sachet dijual di warung-warung Labuan Bajo; ada kebanggaan tersendiri bagi warga ketika menyuguhkan kopi Flores sepertinya.
4. Banyaklah bersabar ketika berbicara dengan warga apalagi ketika memesan makanan di restoran, terutama apabila Anda berasal dari Jakarta. Terkadang orang Jakarta terbiasa berbicara dengan cepat sehingga sulit ditangkap perkataannya.
5. Berkemaslah dengan ringan untuk mempermudah mobilitas karena sarana dan prasarana Labuan Bajo terbatas. Bersiaplah untuk membawa sendiri koper-koper Anda menaiki tangga.

Advertisements

Petualangan Komodo: Bagian Satu.

Pengalaman liburan ke Labuan Bajo, NTT yang baru lalu merupakan kesempatan langka bagi kami sekeluarga. Berbekal kegembiraan dan keinginan berbagi agar lebih banyak orang yang memiliki kesempatan yang sama liburan di salah satu tempat terindah di Indonesia (ya, betul di Indonesia kita!) berikut sedikit catatan dari rombongan kami yang terdiri dari delapan orang; termasuk anak-anak usia sekolah.

Hari Pertama

 Labuan Bajo

Kami sampai di Bandara Komodo Labuan Bajo pukul 15 siang. Kami menggunakan Garuda Indonesia dengan penerbangan langsung dari Soekarno Hatta. Kurang dari lima menit perjalanan, di pertigaan kami disergap pemandangan teluk Labuan Bajo yang masyhur itu. Warga ibukota yang gatal berfoto kemudian segera turun dan berfoto bersama. Kami menginap di Golo Hilltop (silakan cek di Trip Advisor) yang dimiliki oleh sepasang perempuan Belanda. Setiba di resepsionis, selayaknya warga ibukota kami langsung menyergah dengan menyebutkan “saya sudah reservasi atas nama dst dst”. Namun alih-alih langsung mencarikan nama petugas mengajak berjabat tangan berkenalan dulu. Namanya Robi.

Kami mengambil dua kamar standar yang posisinya bersebelahan kemudian satu kamar deluxe yang posisinya lebih ke atas bukit. Golo Hill Top, sesuai dengan namanya, adalah hotel yang terdiri dari pondok-pondok yang bersebelahan satu sama lain. Kamar sudah berpendingin udara, kelambu, kipas angin, perangkat teh kopi (Lipton dan Nescafe), gula dalam stoples dan essentials (handuk-shampoo-sabun).

Pemandangan dari kamar hotel.Kamar Golo HT

Menjelang matahari terbenam kira-kira jam 17.30 semburat jingga sudah kelihatan dari balkon kamar. Di sini kami menyadari bahwa indahnya Labuan Bajo ini boros betul, nyaris semua sudut matahari terbenam terlihat cantik ketika difoto.

Malam pertama itu kami makan di Happy Banana, restoran Jepang milik pasangan Itali-Australia. Kualitas sushi dan sashimi-nya bersaing ketat dengan Jakarta, begitu juga teriyaki bento-nya. Namun yang mencengangkan buat saya adalah hidangan tuna wijennya. Potongan tuna dimatangkan sedikit bagian luarnya dibaluri wijen hitam dan putih kemudian disantap sambil dicocol lemon, minyak zaitun dan garam. Luar biasa betul hidangan ini.

Pelajaran Malam Pertama di Labuan Bajo

  1. Selalu kunci kamar hotel kalau keluar kamar kemudian masukkan sandal ke kamar, apalagi kalau kamar model pondok/bungalow. Suka berkeliaran anjing yang gemar menggondol alas kaki.
  2. Transportasi dari hotel ke daerah kuliner terkadang harus membayar 50K sebanyak 1 trip, meski terkadang ada hotel yang menyediakan shuttle.
  3. Terkadang mobil yang disediakan hotel (bayar ataupun shuttle) tahu-tahu tidak siap menjemput lagi. Fleksibel saja, minta hotel mencarikan mobil pengganti daripada tawar-menawar dengan pengemudi yang menawarkan sewa mobil di pinggir jalan. Biayanya sekali trip biasanya tetap 50 ribu.
  4. Buat yang penakut dengan tokek, suaranya selalu terdengar malam-malam. Waspadalah.
  5. Berdasarkan pengalaman kami, hotel yang pemiliknya orang Eropa biasanya amat sangat bersih meski tidak mewah.

Hari Kedua

Labuan Bajo- Pulau Bidadari-Pulau Kelor-Pulau Kalong

Pilihan untuk sarapan di Golo Hilltop terbagi antara telur orak-arik, telur ceplok atau dadar. Semuanya dilengkapi dengan roti bakar, irisan pepaya dan pisang serta kopi atau teh. Cornflakes dengan susu kemudian madu serta selai juga disediakan oleh hotel. Golo Hilltop menyediakan kopi dalam French press stainless steel sehingga kopi panasnya terjaga. Penggemar kopi akan senang sekali!

Pemandangan dari kursi terbaik di ruang sarapan.Foto Sarapan Golo HT

Kami sampai di pelabuhan untuk naik kapal Laba Laba Boat kira-kira jam 9.30. Sebelum jam 10 pagi kapal sudah angkat sauh bertolak menuju Pulau Bidadari. Begitu naik ke kapal, kapten kami Iskandar memberikan tur singkat menunjukkan bagian-bagian kapal. Rombongan kami terdiri dari empat dewasa, satu remaja dan tiga anak usia sekolah. Apabila komposisinya terdiri dari orang dewasa semua, sepertinya kapal tidak akan nyaman. Tempt tidur yang tersedia ada empat namun kami semua memilih tidur di geladak kapal beramai-ramai.

Foto Sleeping Quarter.jpg

Laba-laba Boat menyediakan essentials seperti handuk, sabun, odol dan shampoo serta sleeping bag sesuai dengan jumlah penumpang. Kamar mandi shower dan klosetnya duduk. Setelah naik Laba Laba Boat saya baru paham penggunaan kloset sehabis membuang hajat; yaitu dengan menggunakan pompa untuk membilas.

Seperti inilah WC di kapal.Foto WC Laba Laba

Kemudian untuk shower, seperti ini,

Foto Shower Laba Laba.jpg

Makanan tersedia melimpah. Ketika baru naik kapal, sudah tersedia muffin dan brownies yang sepertinya dibeli di Bajo Bakery. Di kapal sudah tersedia cooler box yang menyediakan air mineral, minuman ringan serta jus.

Foto Snack Hari Pertama.jpg

Tujuan pertama setelah bertolak dari Pelabuhan Labuan Bajo adalah Pulau Bidadari. Tahan dulu keinginan untuk loncat langsung ke laut melihat jernihnya air. Pakai sunblock ke seluruh bagian tubuh yang akan terkena sinar matahari karena kalau tidak, pedihnya kulit yang terbakar bisa sangat mengganggu libur. Untuk lalu lalang dari kapal ke pantai, kami menggunakan sekoci kayu yang bisa memuat 8 orang yang dikemudikan ABK Ihsan. Dalam sekoci sudah disediakan googles renang dan fins untuk snorkeling serta pelampung untuk dikenakan di badan.

Foto Pulau Bidadari.jpg

Tengah hari kami diajak naik kembali ke kapal untuk makan siang. Dalam perjalanan menuju ke kapal, kami sempat mencebur lagi ke laut untuk berenang menuju kapal saking senangnya. Makan siang pertama itu rupanya jadi pembuka untuk rangkaian hidangan luar biasa yang dipersiapkan oleh Kahar sebagai koki.

Berikut tampilan makan siang pertama kami di atas piring. Dan betul, latar belakang cerah itu adalah laut Flores.Foto Lunch Hari Pertama.jpg

Sehabis makan siang kapal merapat ke Pulau Kelor. Di Pulau Kelor ini cukup ramai kapal-kapal lain merapat untuk snorkeling. Koral di pantai Pulau Kelor ini cukup sukses membuat lecet sebagian telapak kaki kami sehingga sebaiknya lebih berhati-hati di sini. Salah satu perjumpaan paling mengesankan di Pulau Kelor ini adalah dengan seekor ikan pari (manta) kecil. Seandainya kami tahu bahwa tidak akan bertemu dengan manta lain selama di Komodo, kami akan berlama-lama bermain dengannya. Untuk pertama kali siang itu, sebagian dari kami memberanikan diri berenang dari pantai ke kapal. Sekilas jaraknya terlihat pendek namun untuk yang menjalani, terasa jauh sekali! Kapal kami, si Laba-laba adalah yang memiliki lambung berwarna coklat; di tengah.

Foto Dari Bukit Kelor.jpg

Sore itu, Ihsan menyuguhkan teh manis dan kopi serta koki Kahar menyajikan keripik pisang kapok yang langsung digoreng. Kapal kemudian menuju Pulau Kalong.

Pulau Kalong adalah salah satu tujuan utama dalam perjalanan singgah di pulau-pulau sekitaran Komodo. Ketika langit mulai merah, kelelawar mulai keluar dari sebuah pulau kecil yang populer dengan nama pulau Kalong. Dengan latar belakang langit yang berwarna, kemunculan ratusan (ribuan?) kelelawar ini merupakan pemandangan yang luar biasa dramatis. Apabila kerendahan hati pertama muncul melihat laut lepas, kesempatan kali ini terbit ketika terpana memandang ratusan kelelawar di langit merah.

Foto Kalong

Malam pertama di kapal ditutup dengan hidangan dahsyat masakan koki Kahar yang terdiri dari ayam bakar kecap, udang goreng tepung, tumis buncis sosis, nugget ayam dan sop sawi. Terbacanya hidangan rumahan sederhana tapi bagi kami malam itu, betul-betul istimewa.

Foto Dinner Pertama.jpg

Pelajaran Hari Kedua

  1. Sebaiknya gunakan alas kaki untuk berjalan di kapal, kecuali di area tidur dan kamar mandi karena lantai geladak sering becek.
  2. Bawa wind breaker karena meskipun udara tidak dingin, angin amat sangat kencang.
  3. Sebelum mencebur ke laut jangan lupa pakai tabir surya merata ke seluruh tubuh. Sesudah 3 jam, pakai lagi karena kemungkinan luntur karena renang di laut.
  4. Bawa gel lidah buaya untuk dioles ke kulit sesudah terpapar matahari.
  5. Bawa air putih sebagai bekal minum ketika snorkeling karena berada di bawah matahari sekian jam membuat haus. Taruh di keranjang siap angkut ketika hendak bertolak dari kapal dengan sekoci menuju pantai.
  6. Apabila ada pilihan memakai fins, sebaiknya digunakan karena melindungi kaki tergesek koral.
  7. Apabila ingin mengajak anak-anak, sebaiknya mereka yang sudah bisa mengurus dirinya sendiri karena kondisi kapal tidak didisain untuk ramah balita. Plus orangtua akan terkuras energinya mengurus anak-anak sehingga tidak bisa menikmati liburan. Bahkan meski dengan anak-anak usia 9 tahun ke atas masih ada kesulitan menggapai shower kamar mandi atau menggunakan toilet karena belum terbiasa menggunakan pompa.
  8. Buat pemakai kacamata minus, pakailah googles dengan ukuran minus karena sayang sekali bila tidak bisa menikmati keindahan bawah laut Komodo.

Hari Ketiga

 Pulau Rinca – Pulau Padar

Ketika terbangun saat malam pertama di kapal, pertama-tama akan kaget begitu melihat ke arah air karena seolah-olah kapal mengambang di dasar yang berwarna hitam.  Saat matahari mulai keluar, pagi pertama di kapal akan menjadi pengalaman mendalam. Pagi itu Ihsan membuatkan kami kopi dan teh seperti biasa kemudian koki Kahar menghidangkan roti burger isi telur ceplok dan keju . Bermodal sarapan mengenyangkan itu, kapal bertolak menuju Pulau Rinca.

Foto Sarapan Hari Pertama.jpg

Pulau Rinca adalah pulau di kawasan Taman Nasional Komodo dengan populasi komodo terbanyak. Oleh warga lokal Pulau Rinca disebut Loh Buaya karena banyaknya buaya (air) dan darat (komodo). Kapal merapat di pantai Rinca yang sebagian tertutup pohon bakau. Kita bisa melihat berbagai jenis ikan berenang-renang saking jernihnya air tanpa perlu turun dari kapal.

Sampai di gapura selamat datang Pulau Rinca, dua ranger bernama Yadi dan Ikhsan menyambut kami. Dari dermaga kami berjalan kira-kira 200-300 meter menuju kantor ranger untuk membayar tiket masuk Taman Nasional. Tiba-tiba Ihsan ABK kami menunjuk ke tanah lapang sebelah kanan kami sambil berteriak, “ Komodo!”. Kami dengan gugup menoleh kearah yang ditunjuk Ihsan. Benar saja ada seekor komodo remaja, yang bentukannya tidak jauh beda dengan biawak sedang berjalan santai melintas. Sambil berusaha menenangkan diri dari perjumpaan perdana dengan komodo remaja (yang kemudian menyusup mencari keteduhan ke balik-balik bangunan kantor ranger), kami menuju kantor ranger.

Turis yang mengantri di kantor ranger untuk membayar tiket masuk asal-usulnya beragam. Kami berpapasan dengan serombongan turis Asia, kemungkinan besar Taiwan atau Cina Daratan. Yang mengantri bersama kami membayar tiket adalah serombongan turis Eropa yang berbahasa Perancis dan Belanda. Rombongan-rombongan turis domestik juga terlihat dengan komposisi berimbang dengan turis asing. Proses mengantri serta pembayaran tiket masuk berlangsung dengan lancar. Petugas mengenakan seragam polisi kehutanan dan di belakangnya terpasang foto Presiden Joko Widodo serta Wapres Jusuf Kalla. Pada saat itu, di pulau yang mayoritas penghuninya adalah komodo, kami merasa negara hadir.

Memang buat yang sudah beberapa kali berjumpa di Kebun Binatang Ragunan atau Taman Reptil TMII, komodo tidak terlalu impresif.Foto Dengan Komodo.jpg

Kami memilih mengambil trek pendek di Pulau Rinca untuk menabung tenaga untuk trekking berikutnya di Pulau Padar. Ketika memulai perjalanan, duo ranger Yadi dan Ikhsan menekankan berulangkali agar kami berjalan dalam rombongan dan tidak melantur keluar. Larangan berikutnya adalah untuk menjaga jarak aman 5 meter dari komodo dan dilarang melakukan tindakan mendadak. Mereka juga menjelaskan penggunaan gagang panjang bercabang dua yang digunakan untuk mengendalikan komodo (“untuk menekan mata dan pelipis komodo yang sensitif”). Belum sampai dua menit jalan meninggalkan kantor ranger, seekor komodo sudah terlihat sedang termenung-menung di bawah bayangan bangunan dapur. Ternyata cukup banyak komodo bermenung-menung di sekitar bangunan dapur sehingga menjadi target turis untuk berfoto bersama.

Komodo dengan latar belakang jemuran.Foto Komodo dan Jemuran.jpg

Medan trekking di Pulau Rinca relatif bisa tertangani dengan baik. Anak-anak tidak mengalami kesulitan untuk naik ke bukit.

Foto Athar Rinca.jpg

Dari atas bukit Rinca terlihat teluk tempat kapal-kapal kami menambatkan sauh. Namun sebagaimana ada naik pasti ada turun, perlu perhatian ekstra turun trekking Pulau Rinca. Medan yang agak berpasir bisa membuat tergelincir. Turun dari bukit di Rinca, kami menambal amunisi dengan mampir di kantin untuk mencari minuman dingin. Pengalaman trekking di Rinca ini menjadi pembuka untuk lebih banyak pemandangan dahsyat dari lanskap Komodo.

Foto Rinca 3.jpg

Makan siang kedua di kapal, seusai lelah trekking di Pulau Rinca (yang sebetulnya ibarat jalan ke PIM 1 dari PIM 2 kalau dibandingkan Padar) adalah tumis terung dengan teri medan, gulai ayam, cumi goreng kering, wortel dan buncis kuah serta terong goreng kering plus sambal tomat maha dahsyat. Kahar sang Koki kembali memamerkan kehebatannya.

Foto Lunch Hari Kedua.jpg

Makan siang ini sukses membuat kami terkapar kekenyangan sementara kapal melaju menuju Pulau Padar. Sesampai di Pulau Padar kira-kira jam 14.30, matahari di atas laut Flores sedang terik-teriknya. Sedikit ogah-ogahan kami turun dari kapal menumpang sekoci yang dikemudikan oleh Ihsan menuju Pulau Padar. Tangga kayu menuju puncak Pulau Padar yang terlihat jinak ternyata gerbang kebuasan trekking yang mendaki. Di tengah perjalanan, apabila kita menengok ke belakang, pemandangan Padar seperti menyemangati untuk terus mendaki naik.

Foto Padar Rendah.jpg

Sebagian dari kami berhenti untuk beristirahat berteduh mengatur napas selama trekking. Barangkali ada yang berpikir, berfoto di Padar adalah klise, sebagaimana berfoto saat matahari terbit di Bromo. Sebetulnya yang kita coba abadikan adalah ketersimaan pada alam dan tanpa sadar, kerendahan hati kita ketika berhadapan dengannya.

Sangat sulit bagi kami untuk mengangkat dagu dan mengingat pencapaian dunia ketika pemandangan seperti ini terpapar di depan mata.

Foto Padar Panorama.jpg

Turun dari puncak Pulau Padar ternyata ada yang jualan air kelapa sehingga kami mampir dulu. Ngobrol dengan tukang kelapa, ternyata tidak di semua pulau di perairan Komodo memiliki pohon kelapa (perhatikan deh!) jadi perlu ada biaya transportasi antar pulau untuk mendatangkan kelapa.

Untuk di hari kedua, rupanya kru Laba Laba Boat menyiapkan kejutan buat kami. Makan malam di hari kedua itu adalah BBQ ikan di pantai! Kami terkagum-kagum dengan kesigapan Ihsan, Kahar dan Iskandar menyiapkan rencana ini. Kapal merapat ke sebuah pulau kecil di seberang Komodo (entah bernama atau tidak). Mereka menata lampu-lampu kecil sepanjang pantai kemudian mulai membakar ikan. Hidangan utama di pantai itu adalah ikan kuwe bakar (ukurannya lebih besar dari MacBookPro), ayam bakar, mie goreng, kentang goreng serta sop wortel dan kentang.

Foto BBQ.jpg

Sesudah trekking di Rinca dan Padar, BBQ di pantai merupakan penutup keseruan hari.

Dari petualangan trekking dari Rinca dan Padar, kami menutupnya dengan figur dua kakak beradik yang menunggu kehadiran saudarinya untuk melengkapi takdir dalam rangka foto bersama di lanskap Padar yang populer dengan sebutan Three Sisters.

Foto Padar Three Sisters.jpg

Pelajaran di Hari Ketiga

  1. Selalu gunakan sepatu olahraga atau hiking kalau punya ketika trekking di Pulau Rinca maupun Pulau Padar. Sandal jepit merupakan ide yang buruk karena jalanan kering berpasir sehingga mudah membuat tergelincir.
  2. Siapkan pecahan uang kecil lima ribuan (tergantung jumlah rombongan) karena pembayaran masuk Taman Nasional hanya bisa dengan uang tunai dan ranger kesulitan mencari kembalian. Ingat, ini bukan Indomaret.
  3. Ketika trekking matahari pukul sembilan pagi sudah menyengat jadi pakai topi dan kacamata hitam adalah ide yang selalu bagus.
  4. Selalu turut perkataan ranger karena apabila Anda membaca ini besar kemungkinan Anda tinggal di kota yang pengetahuannya akan alam komodo hanya sebatas internet dan TV. Tidak seperti ranger.
  5. Sebelum menggunakan toilet di Pulau Rinca, sebaiknya berhati-hati di cek dulu karena terkadang komodo suka berteduh.
  6. Pulau Padar adalah pulau tanpa penghuni tidak seperti Pulau Rinca yang ditinggali ranger. Hindari bertualang sendiri ke Pulau Padar karena kalau putus napas kena serangan jantung karena mendaki, tidak ada yang menolong.
  7. Bawalah minum ketika trekking di Pulau Rinca dan Padar karena tidak ada warung yang jualan ketika Anda kehausan di tengah-tengah trekking.
  8. Bawa kembali sampah, terutama dari Pulau Padar. Tidak ada Dinas Kebersihan di sini.
  9. Bayarlah tiket dengan mengutarakan jumlah penumpang secara jujur. Selain menghindari kepanikan bila polisi laut melakukan pemeriksaan (kami melihat polisi laut melintas di suatu pagi) juga untuk memberi pesan kejujuran pada kru kapal dan petugas.

Continue reading

Coffee Hopping Selama Liburan Akhir Tahun 2016

Selama liburan akhir tahun kemarin, saya menghabiskan waktu dengan mencicipi beberapa kedai kopi yang semakin bertambah di Jakarta. Karena berbagai keterbatasan, saya hanya berhasil mampir di beberapa tempat di Jakarta Selatan. Berikut adalah hasil nongkrong dan ngopi-ngopi di beberapa tempat tersebut. Mohon maaf, saya tidak akan membahas mengenai kualitas kopi atau metode menyeduhnya karena saya tidak kompeten menilainya. Yang saya lakukan hanyalah membahas siapakah yang cocok atau aktivitas apakah (selain minum kopi tentunya!) yang tepat menyertai ngopi-ngopi di tempat tersebut. Mari kita mulai!

Filosofi Kopi

Sepertinya saya terlambat sampai di warung kopi ini setelah ramai menjadi lokasi syuting dari film yang berjudul sama. Lokasi Filosofi Kopi adalah tepat di seberang Blok M Square yang menghadap ke Blok M Plaza. Interior industrialnya yang sepertinya menjadi standar banyak restoran dan kafe di Jakarta diperhalus dengan bata merah dan jejeran lukisan cat minyak. Saya senang meja panjang di Filosofi Kopi karena cocok buat orang-orang yang datang dengan partai besar. Filosofi Kopi menyediakan alternatif selain kopi sehingga bukan penggemar kopi bisa ikut menikmati. Cocok sekali ke Filosofi Kopi seusai belanja buku bekas (atau cari tukang jahit?) di Blok M Square.

Srsly

Lokasinya cukup strategis dan luas di Cipete Raya. Interior mengesankan luas dan membagi tempat menjadi area merokok serta tidak merokok. Pilihan menu di Srsly cukup banyak yang membuat kenyang. Srsly cocok buat mereka yang ingin rapat, arisan atau sekedar mencari tempat duduk untuk membuka laptop. Ruangannya cukup terang dan menampung banyak cahaya matahari sehingga auranya cukup membuat betah dan memancing produktivitas, terutama buat yang ingin bekerja.

Butfirst

Warung kopi mungil ini berlokasi di daerah Dharmawangsa; berbagi petak di Pelaspas dengan Taco Local dan Snctry. Butfirst memiliki dua meja yang terletak di halaman terbuka dan sisanya sekitar tiga atau empat lagi ada di bagian dalam. Yang menyenangkan dari Butfirst (selain kopinya tentunya) adalah adanya French boulangerie di lokasi yang sama. Penting sekali buat yang senang ngopi sambil ngemil seperti saya. Pergilah ke Butfirst buat mereka yang senang dengan pastries dan canelles seperti di Sophie Authentique atau Levant namun tidak puas dengan kopi yang mereka sediakan. Butfirst cocok untuk Anda yang membutuhkan ruang intim untuk curhat soal pribadi ke teman dan sepertinya bukan tempat yang tepat untuk arisan atau rapat.

Crematology

Berlokasi di Jalan Suryo, sepertinya Crematology sudah menjadi tujuan banyak orang untuk ngopi kalau dilihat dari ekspansinya yang sampai ke Cipete. Interior Crematology cukup nyaman dalam arti banyak sofa bertebaran dan kursi yang cukup. Pencahayaan di Crematology temaran sehingga bisa menjadi tantangan serius buat mereka yang biasa rapat atau bekerja dengan cahaya terang. Crematology cocok buat mereka yang ingin ngopi di tepian terluar Selatan karena lokasinya di Jalan Suryo yang belum terlalu menjorok lebih jauh ke jantung Jakarta Selatan. Hindari Crematology pada jam-jam rentan nongkrong seperti usai jam kantor atau petang di akhir minggu.

 

Monochrome

Monochrome berlokasi di dalam Plaza 88 Kemang yang memiliki patung kuda dan Spiderman merayap di gedungnya. Interior Monochrome cukup klasik sebagaimana warung kopi lainnya yang memilih warna gelap ketimbang terang atau temaram. Satu hal yang menyenangkan di Monochrome adalah mereka menyediakan piccolo alias baby latte. Cocok buat mereka yang membutuhkan cangkir latte kesekian namun dalam ukuran lebih sedikit. Monochrome relatif tenang suasananya sehingga cocok buat yang membutuhkan ketenangan untuk bekerja atau membaca. Monochrome memiliki display yang menampikan snack ringan sehingga cukup memberikan pilihan untuk ngemil.

Coffeesmith

Lokasi Coffeesmith di Duren Tiga membuatnya cukup unik karena sedikit terpisah dari episentrum warung kopi kekinian di sekitar Cipete-Senopati-Kemang. Semoga saya tidak salah catat bahwa Coffeesmith adalah satu-satunya warung kopi dari daftar ini yang menjual biji kopi single origin hasil roastingannya sendiri. Tersedia all-day-breakfast di Coffeesmith sehingga cocok buat yang mencari menu sarapan. Coffeesmith tepat buat mereka yang ingin rapat dan arisan namun kurang pas buat Anda hendak mencari ruang sendiri untuk membuka laptop untuk bekerja atau membaca.

Pertanyaan pentingnya, manakah warung kopi favorit saya? Bila saya ingin sendiri berkonsentrasi menamatkan bacaan atau menyelesaikan tunggakan pekerjaan kemungkinan besar saya memilih Butfirst. Tapi bila saya hendak nongkrong ngopi dari sore sampai malam nonstop bersama teman-teman dekat, saya akan ke Coffeesmith. Bonus tambahan buat yang mencari tempat shalat, lantai atas Coffesmith difungsikan sebagai musala juga.

Senang bukan semakin banyak pilihan tempat ngopi?

PS

Sebelum saya menutup tulisan singkat, sebetulnya ada satu lagi warung kapi yang terletak di Jeruk Purut. Sebagai pelanggan yang puas akan biji kopi pilihan Gordi (silakan cek situs mereka di sini), saya mampir di tempat mereka di daerah Jeruk Purut. Namun ketika tulisan ini saya unggah, sependek ingatan saya warung kopi Gordi statusnya pun belum soft opening sehingga belum saya cantumkan dalam daftar di atas. Meski demikian, yang cukup mengesankan dari mereka adalah mereka ingat saya ingin flat white yang lebih dark berdasarkan kunjungan sebelumnya dan pastries yang mereka sediakan dari Levant Boulangerie (juara!).

Review Buku: Semua Untuk Hindia (Iksaka Banu)

Semua Untuk Hindia: Menulis Fiksi Dengan Rendah Hati Tentang Sejarah

Satu kualitas yang jarang hadir dalam penulis Indonesia akhir-akhir ini adalah kerendahan hati dalam menghampiri subyek. Godaan untuk menjelajah subyek tertentu, dari jenis tumbuhan tertentu hingga peristiwa 1965 begitu dahsyat sehingga tidak jarang pembaca mendapat air bah informasi yang belum tentu relevan dengan cerita.

Untungnya tantangan ini bisa dijawab dengan cukup baik oleh kumpulan cerpen Iksaka Banu yang berjudul “Semua Untuk Hindia’. Memang buku ini sudah terbit setengah tahun lalu; artinya cukup terlambat untuk mengulas buku ini sekarang.  Cerpen-cerpen dalam Semua Untuk Hindia berkisah mengenai individu yang kebetulan berada di tempat dan waktu yang tercatat dalam sejarah Indonesia modern. Mayoritas individu-individu itu berkebangsaan Belanda dan menjadi saksi sejarah. Terkadang, bentuknya berupa perjumpaan antara seorang tokoh yang bernasib buruk (misalnya mengalami kecelakaan kereta atau menjadi tahanan) dengan pahlawan nasional Indonesia. Cerita lain yang sepertinya menjadi salah satu tema favorit pengarang adalah mengenai nyai. Institusi pergundikan khas tanah jajahan ini beberapa kali menjadi tema besar dari cerpen-cerpen Iksaka Banu. Beberapa peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang menjadi latar cerita antara lain pembantaian Cina di Jakarta tahun 1740, pemberontakan petani Banten tahun 1888 dan penyerbuan Inggris ke Jakarta tahun 1811. Sedikit banyak, membaca Semua Untuk Hindia akan mengingatkan kita pada seri Petit Histoire atau Sejarah Kecil Indonesia yang disusun oleh (alm) Rosihan Anwar.

Buat mereka yang gemar sejarah, cerita-cerita di kumpulan cerpen Iksaka Banu ini akan sangat mengasyikkan. Kita akan terpukau dan insaf betapa kecilnya manusia dalam gelombang sejarah. Meski mayoritas protagonis dalam kisah-kisah ini berkebangsaan Eropa (baca: penjajah), namun mereka dikonstruksikan oleh penulisnya memiliki humanisme tinggi pada orang-orang di tanah jajahan tersebut. Posisi si ‘aku’ yang seorang berpendidikan Barat tetap dalam kerangka seorang penjajah, tanpa terjebak menjadi sosok eksploitatif atau penyelamat. Hal ini menjadikan si aku sebagai penutur seperti figur yang mewakili suara penulis (atau pembaca?) sehingga mudah bagi pembaca untuk bersimpati padanya.

Dalam ceritanya, Iksaka Banu menunjukkan bahwa dalam posisi terjajah, bukan berarti apa yang dilakukan orang “Indonesia” pasti benar. Jatuhnya korban seperti penjual warung hingga balita di berbagai kejadian memberi isyarat bahwa pemaknaan terhadap sejarah tidak bisa hitam putih; terjajah bukan berarti pembenaran terhadap kekerasan.

Ada dua hal yang patut diapresiasi dari kumpulan cerpen Iksaka Banu ini. Pertama, penulis tidak berusaha menjejali pembaca dengan pengetahuan baru. Penulis lolos dari jebakan banyak fiksi yang berpretensi sastrawi; menganggap membeberkan banyak informasi mengenai topik tertentu akan meningkatkan kualitas tulisan. Kedua, penutup cerita yang memiliki optimisme yang khas. Penulis berhasil meyakinkan pembaca bahwa cerita selesai sampai titik tertentu; sisanya terserah pembaca. Model bertutur seperti ini sangat mendewasakan pembaca karena kita, sidang pembaca, dianggap cukup rasional untuk tidak merengek minta penulis berpanjang-panjang menghibur kami.

Yang mengganggu dari kumpulan cerpen ini justru adalah hal teknis dalam bercerita. Misalnya, bagaimanakah seseorang yang melihat massa beringas melalui teropong kemudian mendadak sudah diserang oleh massa tersebut (Tangan Ratu Adil)? Atau hubungan seorang wartawan Belanda dengan putri bangsawan Buleleng yang disebut sebagai “adik kecil”; mengapa harus ada pengistilahan seperti ini?

Kumpulan cerpen di Semua Untuk Hindia ini seperti permata yang belum diasah. Saya membayangkan kumpulan cerpen ini seperti menunggu pinangan untuk dijadikan film pendek atau menjadi bahan skenario film. Sudah memiliki nilai ekonomi namun perlu usaha lebih lanjut untuk menjadikannya cemerlang. Apabila Anda senang membaca kisah sejarah namun tidak mau terlalu berpelik-pelik dan tak mau terhina dengan dramatisasi berlebihan; Semua Untuk Hindia ini cocok untuk Anda. Namun, lupakan ini bila Anda ini bila Anda menghendaki kompleksitas dimensional dari semua tokoh-tokohnya. Pertanyaan penutup yang penting, akankah saya menyorongkan Semua Untuk Hindia bagi anak-anak saya? Jawabannya adalah ya, ketika mereka duduk di bangku SMA kelak.

Catatan

Apabila Anda ingin membaca buku ini, tambah kesenangan membaca Anda dengan menunda membaca Kata Pengantar yang ditulis oleh Nirwan Dewanto. Banyak spoilernya, sebaiknya dibaca terakhir sebelum Anda menutup buku.

Resensi Buku: Aruna dan Lidahnya karangan Laksmi Pamuntjak.

Resensi Buku

“Aruna & Lidahnya”: Imajinasi Investigasi dan Petualangan Kuliner Nusantara

Sebuah ide bisa jadi menarik secara konseptual namun ketika si penulis menuangkannya dalam bentuk fiksi, ternyata realitas tidak semenarik konsep. Menurut hemat saya, hal ini terjadi dalam novel “Aruna dan Lidahnya’, karangan Laksmi Pamuntjak. Novel kedua Laksmi Pamuntjak sesudah ‘Amba’ ini berkisah tentang petualangan seorang perempuan berusia 35 tahun dalam perjalanannya menyelidiki kasus flu burung di berbagai pelosok Nusantara. Aruna adalah seorang konsultan ahli wabah yang disewa kementerian kesehatan (dalam novel, penulis menyamarkan nama Kementerian Kesehatan menjadi ‘Kementerian Mabura’). Perjalanan keliling Nusantara dari Aceh hingga Lombok ini menjadi semacam wisata kuliner bagi Aruna, yang mengaku “ingin menjaga berat badan tapi tak bisa menahan nafsu makan’. Wisata kuliner Aruna ini dijalani Aruna dengan dalih menyelidiki kasus flu burung (atau sebaliknya?) bersama dengan tiga orang kawannya. Bono, seorang chef profesional yang telah menempuh pengalaman sampai New York dan mampu mengolah bakmi dengan foie gras serta Nadezdha, blasteran Sunda-Aceh-Perancis dan Persia; seorang konsultan gaya hidup yang sangat mempesona sehingga menurut Aruna bila dibandingkan dengan dirinya bagaikan ‘sampanye dan popcorn’. Terakhir, Farish, rekan sejawatnya dari kantor yang ditugaskan bepergian dalam menyelidiki wabah flu burung.

Dalam tuturnya, Laksmi Pamuntjak membeberkan pengetahuannya yang ekstensif soal kekayaan kuliner Indonesia. Menulis soal ragam kuliner Indonesia tentunya bukan sesuatu yang asing bagi penulis, mengingat ia memiliki empat buku panduan makan enak, The Jakarta Good Food Guide. Membaca petualangan kuliner Aruna dan teman-temannya; kita akan diajak blusukan akan mafhum betapa nyaris tak bertepinya kekayaan serta budaya kuliner Indonesia. Ada rujak soto yang dipertanyakan Bono (‘kalau rujak soto, lebih banyak rujaknya. Kalau soto rujak, lebih banyak soto dibanding rujak’) hingga tradisi memasak di Aceh yang sebetulnya lebih banyak dipegang oleh kaum pria.

Bila kita sejenak memberi jarak dari ketersimaan kita akan penjelajahan kuliner Indonesia oleh Aruna dan kawan-kawannya, sebetulnya apakah yang coba diceritakan oleh penulis dalam novel ini? Petualangan kuliner dibungkus perjalanan menyelidiki wabah flu burung atau sebaliknya? Yang cukup jelas terbaca adalah “Aruna dan Lidahnya” sama sekali bukan novel yang bergerak karena karakter dan akibat atas pilihan-pilihan yang diambil si karakter tersebut. Apabila novel ini bermaksud menjelajah kuliner Indonesia; tidak tampak ada perubahan yang terjadi, baik atas fragmen hidup yang dilakoni Aruna sang protagonis sebagai konsekuensi pilihan kulinernya misalnya. Apabila novel ini bermaksud mengajak pembacanya menginvestigasi segala sesuatu berkaitan pengambilan keputusan sehubungan isu flu burung; tidak tampak juga keberhasilan mereka dalam mengungkap fakta baru selain kasak-kusuk soal penugasan investigasi tersebut.

Dari sisi penokohan serta plot sendiri; menurut hemat saya banyak bagian kisah yang sebetulnya tidak terlalu perlu atau tujuannya bisa dipertanyakan. Misalnya bagian empat pria yang adu tebak usia dan asal anggur adalah bagaikan etalase yang gagal tampil berkelas soal pengetahuan akan anggur. Apabila ada tuturan yang layak mendapat pujian adalah bagian percakapan Aruna dengan seorang pasien suspek flu burung di Palembang. Pengetahuan yang dimiliki Laksmi Pamuntjak mengenai kuliner Palembang mengalir berjalin dengan cerita dengan cukup rapi sehingga tidak terkesan sebagai tempelan belaka. Mengenai bangunan karakter yang ada di novel; Aruna sebagai sosok utama sangat mengesankan dan manusiawi. Manusiawinya Aruna membuat pembaca bisa dengan mudah mengidentifikasi aspek pribadi mereka dengan perilaku Aruna. Kontras dengan Nadezhda tampil membahana secara fisik dan intelektual; dari penguasaannya soal kuliner hingga keterampilannya di ranjang. Hal ini bisa membuat pembaca berpikir apabila bersuami dan menjadi ibu adalah puncak capaian perempuan; maka hanya untuk soal itu sajalah Nadezhda berkekurangan. Keunggulan Nadezhda dari segala jurusan ini cukup membosankan dibacanya karena konflik yang dialami Nadezhda tidak cukup menghidupkannya sebagai manusia; seperti layaknya Aruna. Sosok Bono sendiri sebagai chef sayang sekali tidak dielaborasi dengan maksimal padahal pemosisian ‘Aruna dan Lidahnya’ sebagai kisah kuliner seharusnya mampu lebih banyak menjelajahi kefasihan seorang koki ketika terpapar dengan berbagai menu sebagaimana yang dijalani Bono. Juga Farish sebagai rekan kerja Aruna yang dicitrakan dalam novel sebagai (mantan) aktivis terkesan komikal dan pembangunan karakternya seakan-akan disiapkan hanya untuk melayani tujuan romantis belaka.

Seorang pembaca secara naluriah akan membandingkan “Aruna dan Lidahnya” dengan novel Laksmi Pamuntjak sebelumnya, yaitu “Amba”. Novel Amba jelas memiliki bobot dan corak tulisan yang berbeda; cerita soal konflik peristiwa G30S/PKI nyaris musykil dituturkan dengan ringan sebagaimana “Aruna dan Lidahnya”. Namun meski Amba bertutur dengan kalimat berat serta berpuisi, ada konsistensi penulis hingga akhir bab dengan gaya bertutur semacam itu. Berbeda sekali dengan ‘Aruna dan Lidahnya”. Di bab pertama pembaca diajak membaca sebuah paragraf lebih dari tiga halaman tanpa titik sama sekali. Meski dalam lembar terima kasih halaman belakang penulis mengaku bahwa ia mengambil inspirasi dari buku lain; namun model penulisan seperti ini melelahkan pembaca. Melelahkan terutama karena terlihat inkonsisten dengan gaya bercerita yang diangkat dalam bab-bab berikutnya.

Namun sayangnya hal serupa diulangi penulis di halaman 257 ketika Aruna berkisah soal perjalanannya di Pontianak. Separuh halaman berupa 29 baris lanjutan dari kalimat di halaman sebelumnya; yang terdiri dari 62 kata yang berhubungan makanan. Apakah yang diharapkan penulis dari pembaca ketika menuliskan baris-baris itu? Keterpesonaan atas betapa telitinya jangkauan pandang Aruna sebagai penutur?

Perhatikan juga penggunaan kata ‘dan’ di awal kalimat di novel ini. Apabila Anda, pembaca memerhatikan dalam tulisan resensi ini hanya paragraf dua yang tidak memiliki kata ‘dan’ di awal kalimat? Bayangkan, bahwa dari 400 halaman novel “Aruna dan Lidahnya”; ada 134 kata ‘dan’ di awal kalimat. Hal ini menunjukkan pentingnya peran editor ketika mengedit naskah; karena pengulangan yang terlalu sering seperti ini mengganggu kenyamanan membaca. Bagian lain dari novel yang membutuhkan peran editor adalah beberapa inkonsistensi tersebar antara lain penggunaan singkatan “LSM” versus “en-ji-o”. Apabila ada maksud dalam pembedaan penggunaan dua singkatan ini, seharusnya terefleksikan dalam bagian lain di novel ini. Selain itu, pembedaan penggunaan aplikasi pengiriman pesan di ponsel oleh para tokoh di “Aruna dan Lidahnya” sedikit banyak menimbulkan pertanyaan juga. Mengapa penulis tidak konsisten saja memilih satu aplikasi komunikasi di telepon genggam? Mengapa harus ada pembedaan Bono di satu komunikasi menggunakan pesan pendek (SMS) sementara Aruna menggunakan aplikasi Whatsapp namun di halaman berikutnya dengan orang yang sama kalimat Aruna justru “Aku berhenti mengirim SMS”? Lagi-lagi apabila perbedaan penggunaan aplikasi ini ada maksudnya, sama sekali tidak tercermin sepanjang novel.

Satu hal lagi yang cukup mengganggu adalah cerita warga Singkawang mengenai sengketa pilkada. Tertulis dalam novel “..tapi beliau dikalahkan di tingkat Mahkamah Konstitusi”. Di tahun 2012, setiap sengketa yang berkaitan dengan hasil dan proses pilkada prosesnya ada di Mahkamah Konstitusi tanpa tingkat-tingkatan sebagaimana di peradilan umum. Bisa jadi hal ini membingungkan bagi awam, namun sebuah novel seharusnya tidak mengandung kesalahan mendasar soal proses legal formal seperti ini. Hal-hal semacam inilah yang menjadikan kebutuhan editor kompeten untuk karya fiksi Indonesia semakin mendesak.

Sebagai penutup, apakah novel ‘Aruna & Lidahnya” cukup enak dibaca dan perlu dan memenuhi janjinya sebagai novel kuliner? Menurut hemat saya sebagai pembaca, pemenuhan janji ini tidak sepenuhnya terjadi karena yang terwujud dalam novel ini adalah semata fiksionalisasi perjalanan icip-icip belaka. Apabila ada kedalaman baru yang terwujud setelah membaca ‘Amba’, maka ada posisi berbeda untuk ‘Aruna dan Lidahnya”. Apabila Anda mengharapkan ada petualangan seru atau drama manusia dengan bumbu kuliner, maka Anda akan kecewa bila memilih membaca “Aruna dan Lidahnya”.

Paling sehat adalah membaca “Aruna & Lidahnya ketika Anda hendak bertolak ke manapun. Baca novel ini ketika Anda berada di ruang tunggu stasiun atau pesawat. Harapannya, dengan membaca ‘Aruna’ akan akan menghargai kekayaan kuliner Nusantara dan meluangkan waktu untuk mencicipi berbagai jajanan dan masakan setempat di wilayah manapun Anda bepergian. Dengan pemosisian seperti ini, maka “Aruna & Lidahnya” mendapat ruang lebih baik dalam khazanah fiksi Indonesia.

Surat Untuk Papa Yang Akan Memilih Prabowo

Ketika ayah kita, satu-satunya ayah kita, memutuskan berseberangan secara politik dengan anak perempuan tertuanya; bagaimana perasaan kita? Sebagai seorang yang dididik untuk mampu mempertanggungjawabkan konsekuensi pilihannya; ini adalah pukulan berat. Mungkin Anda, para pembaca, sudah mafhum bahwa ayah saya akan memilih Prabowo sebagai presiden, sementara saya akan memilih Jokowi.

Tenang, tulisan ini bukan feel-good writing a la Chicken Soup of The Soul. Tulisan ini tidak bermaksud mengajak para pembaca untuk memahami situasi (yang seolah-olah) genting antara ayah dan anak. Pun tulisan ini tidak bermaksud menjadikan cinta sebagai penyangkal kehendak bebas manusia dalam berpolitik. Tulisan ini adalah surat cinta terbuka dari seorang anak perempuan kepada ayahnya.

—————–

Papa ingat ketika waktu SD Gita bertanya pada Papa mengapa Presiden Indonesia Suharto melulu? Entah apa jawaban Papa tapi malam itu setelah memandang Gita lama-lama, Papa membuat Gita berjanji bahwa Gita bebas bertanya apapun dan Papa menjawab sebaik-baiknya buat Gita. Dengan syarat, Gita hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu pada Papa. Setelah sekian lama waktu berlalu, Gita mafhum bahwa kanalisasi pertanyaan itu cara Papa melindungi anaknya dari rezim yang tidak memberi ruang pada kritisisme.

Rezim yang tidak memberi ruang pada kritisisme dan perbedaan kemungkinan kembali lagi bila Prabowo jadi presiden. Nihilnya ruang untuk perbedaan bisa dilihat dari contoh paling gampang, timses seolah dikomando mengenakan seragam sama. Tapi Pa, kita selalu bisa memulai perdebatan siapa yang lebih baik antara Jokowi atau Prabowo dari berbagai sudut bukan? Kita bisa mulai dari HAM, kebijakan energi, reformasi birokrasi, desentralisasi sampai politik luar negeri. Apa yang Papa dan Gita yakini penting kini begitu berjarak dan berbeda. Tapi masalahnya bukan di situ.

Orang yang akan Papa pilih jadi presiden kita memiliki jejak darah. Ia tak ragu menculik dan menyiksa atas nama keamanan; atas nama negara. Ia bersenjata dan tafsirnya atas keamanan adalah dengan menyiksa sesama manusia. Ia, Prabowo Subianto, percaya bahwa kulit yang teriris, jangat lebam membiru dan tubuh yang membeku akan baik bagi untuk rasa aman bernegara. Negara yang memberikan legitimasi atas keamanan seperti inilah yang menjadi mimpi Prabowo.

Adalah jemari Papa yang akan memilihnya.  Jemari Papa yang dulu mengelus rambut Gita dengan kasih ketika Gita menangis karena nilai matematika yang jelek; tangan Papa yang dulu dengan riang membantu Gita membangun istana pasir di Pangandaran (ingatkah Papa?); tangan Papa yang mengemudi mobil ketika kita sekeluarga bermobil keliling Jawa. Ya, tangan Papa itulah yang akan menusukkan paku ke gambar Prabowo dan menjadikannya Presiden Indonesia.

Gita tidak ikhlas bila tangan Papa yang sampai kini selalu penuh kasih pada Gita (dan anak-anak Gita; cucu Papa) membuka jalan pada seorang dengan jejak darah. Tangan Papa tak seharusnya berlumur darah. Biarkan ayah orang lain yang memilih Prabowo; tapi bukan Papa; bukan orang yang dipanggil opa oleh anak-anak Gita.

Dari semua kesalahan Papa sebagai manusia; janganlah memilih Prabowo menjadi salah satunya. Cari orang lain untuk menggantikan suara Papa memilih Prabowo. Gita terlalu sayang pada Papa untuk membiarkan Papa menggunakan hak pilih Papa untuk memilih salah satu orang dengan rekam jejak terburuk yang akan memimpin Indonesia.

Pick me, choose me, love me. Not Prabowo.

PS
Tentu tulisan ini hanya bisa disusun oleh seorang perempuan dewasa yang memiliki kemewahan pernah dilimpahi kasih sayang oleh ayahnya.

Review Rumah Makan Suntiang: Land of The Free and Home of The Brave

Ketika melihat menu bertuliskan ‘sushi rendang’ dan “ sushi ayam pop” di Rumah Makan Suntiang, yang terlintas di kepala saya adalah betapa berani dan bertajinya si koki. Koreksi: betapa pemberaninya pemodal restoran ini.  Rumah Suntiang adalah restoran Minang menggunakan pendekatan Jepang dalam pengolahan dan presentasi masakannya. Ide ini selintas sangat absurd karena masakan Jepang adalah hidangan yang amat sangat mementingkan  eloknya visualisasi, kesegaran bahan baku dan detail. Tentu ini bukan berarti masakan Minang tidak mementingkan semua hal tersebut, tapi siapa yang berani bilang rendang atau gulai otak adalah masakan yang masuk dalam kategori “segar” dalam kategori yang sama seperti sashimi misalnya? Soal visualisasi, penampakan masakan Minang dengan kecerahan warna-warninya jelas sangat menggugah selera, namun dengan cara yang amat sangat berbeda dengan tradisi kuliner Jepang. Namun koki Suntiang memungut perbenturan konsep ini dan mencoba menggubah sendiri konsep ‘asam di gunung garam di laut’ yang selalu diucapkan saat pernikahan adat Minang. Si koki (dan pemodalnya) mirip seperti tokoh pahlawan di lagu lama David Crosby ‘he know what he had to do and he wasn’t afraid to fight’.  Tapi apakah keberanian itu berbuah kemenangan? Mari kita lihat.

Bertiga, kami memesan masakan yang menurut kami paling absurd. Seperti oyakodon rendang (rice bowl rendang), ramen cabai hijau, edamame balado, sushi ayam panggang crispy, sushi rendang, lidah saus cabai hijau+asam padeh dan sushi ayam pop; kemudian kesempatan berbeda saya mencoba gulai  daun singkong dan ikan bilih cabai hijaunya.

Sushi rendang, sebagaimana pengetahuan umum kita mengenai sushi, adalah nasi yang dikepal dengan suwiran daging rendang yang teksturnya menyerupai dendeng balado. Bagi saya, sushi rendang ini tidak sebaik sushi ayam pop. Sushi ayam pop adalah, sekali lagi, kepalan nasi yang dengan nori yang dibubuhi suwiran ayam pop dengan sambalnya. Sushi ayam pop ini bagi saya cukup berhasil, karena gurih malu-malu ayam pop dikombinasikan dengan sambal khasnya ternyata masih mampu keluar mengatasi manis tawar khas nasi. Saya membayangkan orang-orang yang ingin menjaga porsi makannya bisa cocok menikmati sushi ayam pop ini karena tidak merasa berkewajiban menghabiskan seporsi nasi berlauk ayam pop.

Untuk menu oyakodon rendang bagi saya gagal total, karena yang saya hadapi adalah nasi mengepul panas dengan kocokan telur bertabur potongan dagin rendang. Sama sekali tidak istimewa dan hanya cocok bagi orang yang hendak mengajari balita makan rendang. Atau justru sebaliknya, bagi orang yang kesulitan mengunyah dan kemampuannya menikmati rendang dibatasi pada potongan rendang yang dikocok dalam telur. Ramen cabai hijaunya gagal membuang ingatan saya akan Indomie Goreng Cabai Hijau diberi kuah karena jejak Minang maupun Jepangnya absen dimana-mana.

Kegagalan Suntiang lainnya adalah pada ikan bilih cabai hijau dan edamame balado; yang membuat saya bertanya-tanya apakah pengetahuan dasar bahwa sebaik-baik ikan bilih adalah yang renyah tidak dimiliki oleh koki. Untuk edamame balado-nya sendiri mengingatkan saya pada film Eyes Wide Shut yang dibintangi Nicole Kidman dan Tom Cruise. Ide edamame dibubuhi sambal balado dan mengharapkan ada kimia yang cocok diantara dua unsur itu sama seperti film Eyes Wide Shut; seolah-olah adalah ide yang bagus memfilmkan Kidman dan Cruise tapi ternyata tidak; sama sekali tidak.

Meski demikian, sushi crispy ayam panggangnya dari semua kombinasi Jepang-Minangnya bagi saya cukup berhasil.  Bumbu ayam panggang masih relatif cukup terasa di kepalan sushi tersebut; namun karena nuansanya cukup berat sepertinya jenis sushi ini harus dinikmati sebagai hidangan utama.

Tapi apa artinya restoran Minang tanpa kita icipi rendangnya? Saya kemudian memesan sepotong rendang dan sesuap nasi. Tidak jelek, sama sekali tidak jelek namun juga tidak istimewa; kita bisa menemukan rendang yang sama di RM Sederhana kesayangan kita misalnya.  Masih penasaran kami mencoba ayam panggangnya. Singkat kata, ayam panggangnya RM Suntiang meringkaskan semua yang tepat mengenai ayam panggang khas Minang. Ada rasa hangat yang pelan-pelan timbul namun tidak pernah mencapai pedas serta nuansa ‘berat’ yang dihasilkan oleh santan yang digunakan sebagai bumbu perendam sebelum dipanggang.

Gulai daun singkong yang saya pesan ketika sampai warnanya masih hijau segar; membuat saya ragu apakah akan alot ketika dikunyah. Kuah gulainya cukup encer meski tidak sampai bening dan irisan cabai merah serta taburan teri medannya sangat menarik. Ketika dikombinasikan dengan nasi panas, akhirnya saya menemukan salah satu andalan RM Suntiang. Gulai daun singkong RM Suntiang menggunakan pucuk daun sehingga empuk dan tidak alot; menjadikannya sejenis sayur berkuah yang bisa kita nikmati cukup dengan nasi putih saja tanpa lauk lain.

Semua kegagalan RM Suntiang bagi saya terbayar dengan lidah cabai hijau dan asam padehnya. Visualnya adalah sebagai berikut: lidah sapi yang diiris tipis disusun di atas lapisan daun selada serta tumisan bawang bombay dengan jalur sambal hijau halus di sebelah kanan dan bumbu asam padeh (berbasis cabai dan asam kandis).  Aroma khas lidah yang dikombinasikan dengan bumbu asam padeh ini menurut saya cocok menjadikan menu ini sebagai andalan RM Suntiang.  Nafsu bisa membawa kita kalap menghabiskan sepiring lidah ini namun tahanlah diri; nikmati dengan nasi panas dan sayur daun singkongnya. Terbayar sudah semua kegagalan RM Suntiang dalam tulisan ini.Image

Saya tidak bisa menyangkal bahwa RM Suntiang tidak sepenuhnya sukses mengolah hidangan khas Minang dengan pendekatan Jepang. Bukan menafikan keberanian koki dan pemodalnya namun saya akan memilih untuk tidak menginventasikan begitu banyak sumber daya untuk menu yang jadinya tanggung seperti Ramen Cabai Hijau atau Edamame Balado. Justru untuk menu-menu tradisionalnya seperti gulai daun singkong dan inovasi lokal seperti lidah cabai hijau asam padeh yang maha dahsyat itu; RM Suntiang cemerlang betul dan senantiasa memanggil kembali.

Ada larik dari lagu kebangsaan AS  Star Spangled Banner yang terngiang setiap saya mengingat hidangan di RM Suntiang yaitu “the land of the free and the home of the brave”. Koki yang berusaha membebaskan masakan Minang menjadi hidangan dengan visual tertata baik khas Jepang serta mengkombinasikan menu tradisional klasik Minang dengan Jepang membutuhkan nyali luarbiasa. Keberanian ini yang menerbitkan rasa ingin tahu untuk kembali lagi ke RM Suntiang untuk mencicipi apa lagi inisiatif terkini koki, selain gulai daun singkong dan lidah cabai hijau asam padehnya.

Bukankah bebas mereka-reka resep leluhur dan menjualnya ke publik adalah salah satu bentuk kebebasan dan keberanian; persis sebagaimana larik lagu kebangsaan AS tersebut?

PS

Dessert andalan RM Suntiang yang menarik hati justru cheesecake dan hazelnut ice creamnya, ketimbang yang tradisional.

RM Suntiang berlokasi di Pondok Indah Mall 2.