Cerita Cinta Enrico – Review

Ketika kita membeli sebuah novel yang mengaku sebagai cerita cinta, apa harapan kita? Kita mengharapkan ada relasi romantik, lengkap dengan dramatisasi yang seolah-olah mengesankan penting betul percintaan tersebut. Kita akan mengapresiasi bumbu peristiwa politik sebagai latar sejarah atau suasana horor sekedar sebagai aksen agar perjalanan menapaki roman percintaan itu tidak membosankan. Saya percaya bahwa kisah cinta itu pada kenyataannya membosankan, selain buat para tokohnya. Untuk itulah para pengarang dan penulis skenario membutuhkan karakter, plot dan cerita yang cukup menarik agar penikmatnya mau bertahan tidak menangkupkan buku dan melangkahkan kaki keluar dari bioskop.

Meski terlambat, saya membaca Cerita Cinta Enrico karya Ayu Utami. Seusai membaca, pada bab-bab awal mengenai masa kecil dan kenakalan si tokoh. saya langsung teringat pada Si Doel Anak Betawi karya Aman Datuk Madjoindo. Sangat terhibur membaca kelakuan Rico kecil lengkap dengan petualangan kecilnya bersama teman-temannya serta relasinya dengan orangtuanya. Bagian ketika ayah Rico harus membawa keluarganya tinggal di hutan karena kesetiannya pada atasan yang terlibat PRRI menyampaikan lebih banyak yang seharusnya tentang loyalitas tanpa berlarut-larut menjadi cengeng.

Tapi kemudian novel ini berlanjut ke masa kuliah Rico dan disitulah bangunan cerita mirip rumah kartu; saling meruntuhkan satu sama lain. Masa dewasa muda Rico yang khas anak muda penuh pemberontakan sebetulnya adalah cerita standar banyak lelaki muda lainnya dan bisa dieksploitasi dengan lebih menarik. Selama membaca Cerita Cinta Enrico saya menunggu kejutan atau pembalikan episode yang berarti dari Rico sebagai tokoh dan dari kehadiran tokoh baru di sepermpat terakhir novel. Namun selain elemen Oedipal yang sudah bisa tertebak sejak awal cerita, kehadiran si tokoh baru bisa jadi membuat kita jemu mengingat betapa klasiknya pemberontakan pribadi melalui seks dalam sastra Indonesia. Kemudian berkaitan dengan latar sejarah kontemporer Indonesia yang seakan membingkai hidup Enrico itu unsur penting atau bila dihilangkan pun tidak bermasalah bagi  bangunan cerita? Sementara untuk soal teknis, terdapat beberapa kalimat yang seolah-olah dipendekkan agar mendapatkan efek dramatik namun sayangnya usaha tersebut kerap gagal. Sebagai pembaca, ada kekangenan tak terperi pada dialog yang muncul secara natural dalam bab-bab Cerita Cinta Enrico; yang terwujud setengah-setengah pada bab-bab terakhir. Sayang sekali dialog tersebut mengenai (lagi-lagi) pemahaman seks dalam agama.

Saya ingat ketersimaan serta pengalaman baru yang didapatkan ketika membaca Saman dan Larung dahulu, meski Bilangan Fu dan Manjali & Cakrabirawa membuat kesenangan membaca karya Ayu Utami semakin menetes hilang. Tidak pantas memang mengharapkan ada reproduksi karya seimpresif pendahulunya tapi terus terang saya khawatir sebagai pembaca setia Ayu Utami. Lagi-lagi Cerita Cinta Enrico, mirip dengan Partikel karya Dewi Lestari, mengingatkan saya bahwa negeri ini butuh editor dengan gunting tajam demi kepuasan pembacanya. Atau jangan-jangan justru di situ inti masalahnya, para penulis yang dimanjakan oleh editor karena yang dituhankan sebetulnya bukan pembaca?

About these ads

One thought on “Cerita Cinta Enrico – Review

  1. Baru saja dua hari lalu selesai baca buku ini.

    Saya pikir tantangan utama buku ini adalah ketika A harus memilih kapan harus berimajinasi dan kapan harus mempertahankan realita kehidupan sang tokoh. Dalam hal ini, A seperti memilih jalan aman yang kedua, dan tidak mau terlalu bergeser jauh dari kisah nyata. Tak heran, ceritanya pun jadi cenderung datar. Saya tidak menemukan klimaks yang benar-benar menyentuh saya di satu titik waktu dalam cerita. Tanpa itu, menurut saya, orang hanya akan bisa sejauh menyukai buku ini, tetapi tidak sampai merasa jadi bagian dari cerita. Buku ini jadi terasa berjarak dengan pembacanya.

    Saya setuju soal latar sejarah kontemporer yang dominan namun terasa kurang penting, dan selalu diulang. Masalahnya, bagi beberapa orang (ini masalah saya sih), membaca sejarah bisa sangat melelahkan.

    Satu hal yang saya tidak suka: cover bukunya terlalu centil. Saya kaget ketika membaca lembar pertama cerita, yang ternyata ditulis dengan “berat”. Di luar dugaan saya ketika melihat cover nya.

    Review singkat yang baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s